Langsung ke konten utama

Srikandi Muslimah

“Dan barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang luas dan (rezeki) yang banyak. Barang siapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya, maka sungguh, pahalanya telah ditetapkan Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

(QS.An-Nisaa [4] : 100)

Bismillahirrahmanirrahim

Hijrah. Berbicara soal ini, selalu dikaitkan dengan suatu perubahan. Perubahan yang mengarah kebaikan. Dimana hati yang sebelumnya jauh dari rahmat-Nya menjadi hati yang dekat dan berserah diri kepada-Nya. Hati yang terus tunduk. Berharap menggapai ridho-Nya kelak di akhirat. Perubahan itu yang mendasari dirinya untuk terus melangkah lebih baik. Mulai dari perubahan pakaian, sikap, akhlaq sampai pada perubahan seluruh tatanan kehidupannya yang dilandasi ketakutan dirinya kepada Allah.

Hijrah bukan suatu perkara yang mudah. Dimana hati harus meninggalkan segala sesuatu yang menjadi kebiasaan, sesuatu yang kita cintai, bahkan sesuatu yang berharga unuk kita. Namun, semua tidak ada yang lebih penting selain hati yang terus tertambat pada ketetapan-Nya. Berubah untuk lebih taat kepada-Nya.

Hijrah harus mengorbankan segala sesuatu yang kita miliki di dunia. Karena hijrah merupakan pengorbanan jiwa dan raga dalam hidup kita. Keteguhan dan kesabaran hati sangat dibutuhkan dalam hijrah.

“Engkau telah meninggalkan agama orang tuamu sendiri padahal itu lebih baik darimu. Kembalilah kamu pada nenek moyangmu atau aku akan menghabisimu sampai mati”, ujar lelaki Quraisy yang terkenal dengan kekejamannya dalam menindas yang lemah. Abu Jahal.

“Tiada Tuhan melainkan Allah”, tegas seorang wanita yang terbujur lemah dibawah teriknya matahari.

Abu jahal merasa sakit hati mendengar perkataan yang terus berulang dari wanita beserta keluarganya  yang berada dihadapannya. Ia kembali mengambil cambuk dan terus menyiksa wanita dan keluarganya. Siksaan tak hentinya dilucuti Abu Jahal. Tak perduli selemah apa manusia yang ada dihadapnnya. Sebelum ia mendengar apa yang ia mau. Ia tak akan berhenti menyiksa.

Wanita itu terus mengerang menyebut nama Allah. Teguh pendiriannya. Kuat hatinya. Tak pernah gentar jiwanya. Meskipun raga tak kuat menghadapi kekejaman pria Quraisy dihadapannya. Namun nama Allah sudah terpatri di hantinya. Berdiri teguh tak goyah sedikitpun.

Abu Jahal semakin panas. Raganya terus membuncah. Penyiksaan kembali ia berikan kepada keluarga sang wanita. Kali ini kepada suaminya. Batu besar menimpah perut sang suami sampai suaminya menghembuskan nafas dengan menyebut nama Allah. Sang wanita merasa hancur. Namun, dia juga merasa gembira ketika mengetahui bahwa suaminya mati dalam keadaan menegakkan agama Allah. Dia tersenyum. Terus mengerang tak henti menyebut nama Allah.

“Suami mu telah mati dalam keadaan tersiksa. Dan kau akan merasakan hal yang sama dengan suami mu jika kau tidak kembali kepada ajaran nenek moyang.”

“Demi Allah aku tidak akan meninggalkan ajaran Muhammad. Dan Tiada Tuhan selain Allah. lebih baik aku mati daripada saya harus kembali ke ajaran nenek moyang.”

Abu Jahal yang mendengar jawaban dari wanita itu merasa sangat marah dan seketika Abu Jahal menancapkan tombak dengan tangannya tepat di hati wanita itu. Sang wanita mengerang kesakitan dan mulutnya berakhir dengan ucapan yang sangat indah “Allahu Akbar!”

Wanita itu adalah wanita yang hebat. Wanita yang luar biasa tangguh. Mempertahankan keimanan kepada Allah tanpa takut mendapatkan siksaan yang hanya dari manusia semata. Wanita yang dijanjikan surga oleh Allah.

Dialah Sumayyah binti Khabath radiyallahu’anha.

Srikandi untuk para muslimah. Mujahidah pertama dalam islam. Muslimah pertama yang mati syahid. Mati di tangan Abu Jahal yang kejam. Mati dengan keteguhan dan keimanan yang tak goyah sedikipun. Hijrah yang indah. Hijrah yang tak ternilai dengan apapun. Hijrah yang mengorbankan jiwa dan raganya. Hijrah yang didasari oleh kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya.

Hijrah yang patut menjadi inspirasi, terutama untuk kaum wanita.

Marilah berubah untuk terus menjadi lebih baik dengan niat hanya karena Allah semata. Teguhkanlah hati untuk terus berada di jalan-Nya. Hijrah memang berat dan terasa sulit, bahkan sesekali diri akan merasa lelah. Namun, lelah karena berubah untuk menjadi lebih baik. Lelah karena berada dijalan-Nya akan memberikan sesuatu yang indah kelak. Allah akan memberikan balasan pahala kepada siapa saja yang berubah untuk lebih baik ke jalan yang diridhoi-Nya.

Teruntuk hati yang merasa lelah, lihatlah bagaimana perjuangan Sumayyah dalam perjalanan hijrahnya. Sudahkah hati ini pantas untuk setiap keluhan lelah yang keluar? Putus asa kah kita ketika ada yang mengolok hijrah kita? Lihatlah kembali bagaimana Sumayyah mempertahankan hijrahnya!

Teruntuk hati, teruslah berada di jalan-Nya. Jangan pernah takut. Karena Allah akan terus bersama orang yang taat dan bertaqwa.

Salam untuk Sayyidina Sumayyah radiyallahu'anha berserta keluarga.

Wallahu’alam bisshawab. Kepada Allah saya mohon ampun.

2 Dzulqaidah 1439 H

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Laporan Praktikum Kimia Menentukan Perubahan Entalpi

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA MENENTUKAN PERUBAHAN ENTALPI REAKSI   OLEH             KELOMPOK                                    : II ANGGOTA                                       : 1.       ADI YULIANTTO                                                  ...

Menyesal

Bismillahirrahmanirrahim “ Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ” (QS. An Nisa’: 110)             Ba’da Maghrib. Malam Jum’at, 13 Jumadal Akhir 1441 Hijriah ... Suara salam dari sang imam masjid sudah menggema. Seketika riuh suara anak-anak pun ikut terdengar diikuti dengan suara langkah kaki mereka yang berlari menghambur keluar masjid. Seperti biasa, sebagian dari mereka ada yang langsung kembali pulang atau berlarian saling kejar dengan temannya di halaman masjid atau bahkan mereka bergegas pergi ke rumah guru ngaji untuk melaksanakan rutinitas mengaji mereka selepas maghrib. Melihat itu saja bisa membuatku tersenyum bahagia. Iya, bahagia rasanya ketika aku masih memiliki waktu untuk kembali ke kampung halaman pada masa liburan. Aku bisa melihat banyaknya aktivitas or...

Alarm di Meja Rias

Bismillahirrahmanirrahim “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan baginya jalan keluar (bagi semua urusannya). Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkannya (segala keperluan).” (QS. Ath-Thalaaq : 2-3) Kring kring kring ... Bunyi alarm sudah menggema di kamar tidurku. Seperti biasa, perlahan aku membuka mata dan mencoba mengumpulkan nyawa untuk bangkit dari kasur yang selalu membuatku nyaman. Kurang lebih membutuhkan waktu tiga menit untuk aku bangkit dari kasur. Mataku mulai menelisik ke arah jarum jam alarm yang ada di meja rias. Astaghfirullah. Aku tersentak kaget begitu melihat jarum jam yang ternyata tak sesuai dengan waktu yang ku atur di malam hari. Tok tok tok ... Suara ketukan pintu terdengar dari luar. Itu pasti Abang atau Ibuku yang hendak membanguniku. “Udah bangun ternyata. Kirain masih nyaman sama mimpinya”, pemilik ...