“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya ...”
(QS. Al-Baqarah :286)
Bismillahirrahnirrahim
Cuaca hari ini cukup cerah. Tidak terlalu panas. Mungkin faktor hujan yang turun beberapa jam yang lalu. Angin semilir juga bergelayut manja disekujur tubuhku. Tapi kecerahan hari ini bertolak belakang dengan keadaan mood ku. Bisa dikatakan hari ini mood ku hancur. Masalah terus datang bertubi kepadaku. Entah rencana apalagi yang Tuhan berikan kepadaku. Pandanganku menerawang ke arah danau yang berada di depanku saat ini. Keindahannya pun sama sekali tak membuatku beranjak dari mood ku yang buruk.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh”, ujar seseorang yang berhasil membuyarkan lamunanku.“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh”, jawabku dengan nada yang tak semangat.
"Cemberut aja. Ada masalah lagi?”, tanyanya padaku.
Aku mengangguk cepat tanpa melihat ke arahnya. Pandanganku masih fokus pada danau yang di depanku yang kali ini mulai muncul seberkas cahaya warna-warni menyapaku dan temanku. Lebih tepatnya sahabatku.
“Masalah itu diselesai loh, bukan dibawa cemberut gini”, ujarnya mencoba menenangkan aku yang masih belum berubah dengan mood ku yang tidak baik.
Aku mengangkat bahuku tidak peduli dengan ucapannya. Kali ini aku benar-benar tidak ingin mendengar siapa pun memberikan wejangan padaku, karena memang hatiku benar-benar dalam keadaan tidak baik.
“Kamu tau Ranggin Kaman?”, tanyanya padaku lagi yang masih berusaha untuk membuka pembicaran denganku.
Apalagi itu. Sahabatku ini memang sangat suka sekali memberikan istilah yang membuat otakku harus berpikir keras untuk mengetahui jawabannya. Namun dengan cara ini juga dia memang lebih sering menghiburku jika aku dalam keadaan seperti ini. Karena dia tahu, kalau aku punya rasa penasaran yang jauh lebih tinggi daripada mood ku yang tidak baik ini.
“Kamu itu selalu bisa ya buat aku bicara sekalipun aku malas bicara.”
Dia tertawa ringan mendengar ucapanku. “Kamu itu harus dibuat penasaran dulu baru bisa bicara sama saya.”
Perlu kalian tahu. Sahabatku ini adalah orang yang sangat baku dalam berbicara. Kuliah di jurusan sastra mempengaruhi cara bicara dia bersama orang banyak. Sekalipun itu orang terdekatnya.
“Terus Ranggin Kaman itu apa?”, tanyaku yang belum mendapatkan jawabannya perihal Ranggin Kaman yang ia tanyakan tadi.
“Sesuatu yang sekarang ada di depan mata kamu”, jawabnya.
“Danau?”, tanyaku yang masih belum mendapatkan jawaban yang jelas. Yang di depanku kan banyak, ada danau, pohon, pelangi, dan lain-lainya. Lalu apa yang dimaksud dia dengan Ranggin Kaman itu?
Dia menggeleng. “Ranggin Kaman itu pelangi. Sesuatu yang indah yang sekarang ada dihadapan kamu”, ujarnya sambil menunjuk ke arah titik pelangi itu muncul.
“Kenapa kamu bilang itu sama aku? Ada hubungannya sama aku?”, tanyaku lagi.
“Ada.”
Aku mengernyitkan keningku tanda aku meminta ia segera untuk menjelaskan apa yang saat ini tengah ia pikirkan antara aku dengan pelangi yang ia sebut dengan Ranggin Kaman.
“Busur panah berwarna-warni : Ranggin Kaman, atau lebih sederhana itu pelangi. Peristiwa alam yang dihasilkan dari pembiasan sinar matahari dalam tetesan air yang jatuh ditambah pantulan cahaya.”
“Pelangi bisa dilihat kalau matahari selalu berada di arah lawan, dan hujan berada di arah pelangi. Jika matahari tidak menerangi hujan maka tidak akan ada pelangi. Sama seperti hidup, masalah itu tidak akan datang kalau suatu saat tidak akan menciptakan pelangi. Dia selalu datang dari arah yang tidak kamu harapkan. Selalu berlawanan arah dengan keinginanmu. Tapi dengan arah itu bisa tercipta sesuatu yang tidak kamu duga indahnya.”
Ya inilah dia. Satu sisi yang dia punya lagi. Dia selalu menjelaskan segala sesuatu dengan teorinya. Alhasil, teori pelangi panjang lebar terdengar di telingaku saat ini. Dan ku rasa itu belum dijelaskannya semua. Tapi jujur. Apa yang dijelaskannya selalu tepat sasaran dan sesuai dengan keadaan yang tengah membuncahku. Dia dan segala macam teorinya selalu bisa menyadarkanku.
“Intinya, masalah itu selalu hadir dalam kehidupan. Dan masalah pasti selalu berlawanan arah dengan keinginan kita. Kita dapat belajar dalam pelangi, meskipun matahari selalu berada di arah lawan tapi kalau tidak ada matahari. Pelangi juga tak akan tercipta keindahannya. Seperti yang kamu lihat sekarang.”
Pandanganku sekarang beralih padanya. Aku tidak pernah berpikir akan berteman dengan dirinya dan segala macam teori yang selalu ku dengar dari bibirnya setiap hari.
“Teori Ranggi Kaman kamu cukup ampuh”, ujarku sambil tertawa ringan dan kembali memandangi pelangi yang ada di depanku.
Dia pun juga ikut tertawa setelah mendengar penuturanku. “Allah tidak akan membebani kamu dengan masalah diluar kemampuan kamu.”
Aku tersenyum. Kali ini keluarlah motivasinya dari kalamullah. Teorinya cukup menangkan hatiku yang tidak baik. Dia memang seperti obat yang dititipkan Allah untukku. Di saat aku dalam keadaan sedih dia dan segala teorinya lah yang berhasil membuatku kembali berpikir untuk apa aku larut dalam kesedihan. Dia dan segala teorinya yang selalu mengembalikan aku untuk lebih mengingat akan keagungan Allah.
Wallahu’alam bishawab.
15 Syawal 1439
Komentar
Posting Komentar