"Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri."
(QS. Luqman : 18)
Bismillahirrahmanirrahim,
Sombong. Salah satu sifat yang dibenci Allah. Bahkan Allah selalu memberikan pelajaran kepada siapa saja yang sombong melalui kisah-kisah orang terdahulu. Manusia tidak lebih hanyalah makhluk yang kecil di mata Allah. Seumpama butiran debu yang jika sekali tiup berhambur kesana kemari tanpa arah.
Al-Qur'an selalu memberikan pelajaran kepada siapa saja yang berlaku sombong di muka bumi. Sifat yang dibenci Allah ini lebih banyak menimbulkan akhir yang tidak baik. Saya sendiri menyaksikan bagaimana orang sombong itu terjatuh ketika Allah sudah merampas seluruh miliknya tanpa sisa apapun.
Pada dasarnya. Kita hidup masih dalam naungan Allah. Seluruh harta benda yang melalaikan kita hanyalah titipan dari Allah sebagai ujian untuk kita. Namun, banyak manusia yang belum menyadari.
Kita dapat belajar dari kisah yang diceritakan dalam Al-Qur'an. Mulai dari kisah Qorun, orang yang berlimpah hartanya namun zalim kepada manusia. Sampai pada fir'aun dan namrud raja dengan sejuta kepongahannya sampai mengaku bahwa dirinya Tuhan yang patut disembah. Semua sangat jelas diterangkan dalam Al-Qur'an. Bagaimana akhir dari kehidupan mereka.
Semua berakhir konyol.
Salah satu kisah yang menarik adalah kisah Namrud yang karena kesombongannya, dia berakhir dengan konyol. Namrud. Raja Babilonia yang cerdas, namun kecerdasannya membuatnya sombong dan mengaku bahwa dirinya Tuhan. Saat dirinya disibukkan memikirkan bagaimana cara untuk mematahkan risalah Nabi Ibrahim a.s yang dianggapnya hanya bualan semata, disaat itu pula kematian membayanginya.
Namrud yang sangat murka kepada Nabi Ibrahim a.s karena hanya Nabi Ibrahim lah yang berani menentangnya sebagai Tuhan dan justru menyuruhnya menyembah Tuhan seluruh alam semesta. Allah subhanallahu wa ta'ala. Saat itu Nabi Ibrahim dipanggil olehnya karena kasus penghancuran berhala di kerajaannya. Bukannya mendapatkan jawaban yang membuatnya puas. Justru Namrud mendapatkan tantangan dari Nabi Ibrahim a.s.
"Kenapa tidak kalian tanyakan saja kepada berhala yang paling besar? Tidakkah kalian lihat di tangannya ada kapak yang dipakai untuk menghancurkan berhala kalian?", ucap Nabi Ibrahim kepada penduduk Babilonia yang kala itu bertanya pasal berhala mereka yang hancur ketika mereka tinggal.
"Bagaimana kami bertanya kepadanya sementara dia tidak dapat berbicara?", tanya salah satu penduduk Babilonia kala itu.
Nabi Ibrahim tesenyum puas. "Lalu, apakah kalian tidak berpikir? Bahkan untuk berbicara saja dia tidak bisa, bagaimana dia memberikan manfaat kepada kalian? Sembalah Allah. Tiada Tuhan selain dia", Nabi Ibrahim menjawab.
Karena tak bisa menjawab akhirnya para penduduk Babilonia membawa Nabi Ibarhim a.s kepada Namrud, raja yang mereka anggap Tuhan. Sesampainya di singgasana Namrud, semua penduduk Babilonia bersujud. Kecuali Nabi Ibrahim a.s.
Namrud yang merasa baru kali ini tidak dihormati bertanya kepada Nabi Ibrahim. "Siapa kamu? Bagaimana bisa kamu tidak sujud kepada saya?"
"Wahai Namrud, bagaimana bisa kamu mengaku sebagai Tuhan sementara seluruh kehidupan mu sama seperti kami semua. Dan kamu bakal dihadapi oleh kematian. Yang menghidupkan dan yang mematikan adalah Allah. Tuhanku, Tuhanmu, dan Tuhan seluruh manusia."
"Baiklah Ibrahim, kalau kamu mengaku bahwa Tuhanmu itu bisa menghidupkan dan mematikan saya juga bisa. Apakah kamu mau bukti?"
Nabi Ibrahim menjawab iya.
Namrud yang bermaksud untuk membantah perkataan Nabi Ibrahim akhirnya menyuruh prajuritnya untuk menangkap dua orang yang sedang lewat di depan istana. Satu orang dibiarkan hidup oleh Namrud dan diberikannya hadiah. Sementara yang satu Namrud bunuh sampai mati.
Tentunya hidup dan mati yang dimaksud Nabi Ibrahim bukanlah seperti yang dimaksud Namrud kala itu. Namun, Nabi Ibrahim menerima argumen Namrud.
Dan setelah itu Nabi Ibrahim berkata, "Wahai Namrud, Tuhanku dan Tuhanmu dan Tuhan segalanya dapat menerbitkan matahari dari Timur ke Barat. Apakah kau bisa melakukannya?"
Namrud terdiam. Merasa kalah dengan Nabi Ibrahim akhirnya ia menyuruh prajuritnya untuk membunuh Nabi Ibrahim dengan cara membakarnya. Namun dengan kuasa Allah Nabi Ibrahim tidak terbakar. Hal imi dilakukan dihadapan seluruh masyarakat Babilonia dan tentunya menimbulkan kebingungan diantara mereka.
Karena merasa gagal membunuh Nabi Ibrahim. Namrud merasa murka, ia terus memikirkan bagaimana caranya agar Nabi Ibrahim bisa dimusnahkan agar tidak terus memaksa rakyatnya untuk menyembah Tuhan selain dia. Dan dia mulai merasa terancam dengan kehadiran Nabi Ibrahim.
Disela pemikirannya untuk membunuh Nabi Ibrahim, Allah datangkan padanya lalat yang terus mengganggunya. Namrud sangat merasa terganggu dengan kehadiran lalat itu, ia juga berusaha untuk menyingkirkan lalat itu. Namun usahanya gagal, lalat itu terus datang kepadanya. Saat ia tertidur lalat itu masuk ke lubang hidungnya dan hinggap di otaknya selama 3 hari.
Tentu hal ini membuat Namrud risih dan mencoba mengeluarkan lalatnya dengan memukul mukul kepalanya. Namun hasilnya nihil. Lalat tersebut tidak mau keluar dan mengganggu aktivitas Namrud. Kurangnya tidur dan tidak bisa makan akhirnya Namrud lelah dan akhirnya mati.
Masyarakat Babilonia pun gempar dan menyebarkan berita bahwa
"Namrud, Tuhan kita mati karena lalat"
"Namrud, Tuhan kita mati karena lalat"
Dari kisah Namrud seharusnya dapat kita ambil pelajaran. Bahwa kesombongan di dunia ini akan berakhir pada kisah yang buruk. Sombong akan melumatkan siapa saja. Dan karena sombong, Allah dapat menghancurkannya di dunia maupun akhirat. Bahkan dengan sombong orang dapat berakhir dengan kekonyolan. Seperti Namrud, dia mati hanya karena seekor lalat. Konyol bukan?
Jauhilah sifat sombong. Karena jagat raya hanyalah kepunyaan Allah.
Wallahu'alam bishawab. Kepada Allah saya mohon ampun.
-12 Syawal 1439 H-
-12 Syawal 1439 H-
Komentar
Posting Komentar