Langsung ke konten utama

Rindu yang Mendalam

"Dan Tuhanmu berfirman : "Berdo'alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu."
(QS. Al-Mu'min : 60)

Bismillahirrahmanirrahim

Sebuah pertemuan akan menghantarkan kita pada satu titik. Titik dimana semua orang tak mengharapkan kehadirannya. Titik itu adalah perpisahan. Namun bukankah itu sebuah alur kehidupan yang sejatinya harus kita terima? Kenyataannya Allah selalu menitipkan kebaikan disetiap pertemuan yang terjadi. Itulah yang patut kita syukuri semestinya. Jika pertemuan tidak menghantarkanmu kepada kebaikan, cobalah berbaik sangka. Allah sedang ingin memberi pelajaran dipertemuan mu itu. Yang pada intinya semua berujung kepada kebaikan diri kita sendiri. lalu untuk apa diciptakan pertemuan jika pada akhirnya akan berpisah? Bukankah itu yang sering timbul di benak kita?

Perpisahan yang menghantarkan kita pada kerinduan yang katanya menyiksa hati.

Kala rindu mulai menusuk relung jiwa. Berharap sebuah pertemuan, namun perpisahan justru membuat jarak yang semakin jauh untuk diraih. Sekat itu terus hadir. Menghantui jiwa yang sedang di rundung rindu. Tak banyak berbuat. Karena yang hanya bisa mempertemukan kembali hanyalah sang Khaliq. Perpisahan yang sejatinya hanyalah sebuah ujian dari Sang Khaliq. Perpisahan yang pada dasarnya akan menambah kebaikan. Jika takdir berkata untuk bertemu, maka perpisahan hanyalah sebuah perjalanan yang harus ditempuh. Jika memang perpisahan itu menjauhkan dari sebuah pertemuan, berharaplah pada-Nya. Jika pertemuan yang baru akan menghadirkan hal yang lebih baik.

Rindu itu hadir tanpa dipinta kehadirannya. Namun ia enggan keluar dengan mudah. Dia terus menusuk relung jiwa. Dan perpisahanlah penyebab sejatinya. Rindu ini teruntuk sebuah pertemuan, yang mengajarkan indahnya hijrah. Rindu yang entah sejak kapan hadir. Namun sadar, rindu ini hanya akan berujung pada kesalahan.

Pertemuan memang bukanlah salah satu cara untuk melepas semua rindu ini. Dan perpisahan bukanlah salah satu penyebab semua rindu ini. Hanya lantunan do’a yang ampuh dari pertemuan itu sendiri. Lantunan do'a yang tidak menghadirkan perpisahan. Lantunan do’a akan menghindarkan dari kesalahan itu. Karena pertemuan belum tentu menghadirkan ridho-Nya. Karena pertemuan hanya berujung pada kesalahan hati. Namun do’a pasti akan menghadirkan pertemuan yang di ridhoi-Nya tanpa perpisahan. Bukankah saat ini hati ini juga tengah merindukan Allah dan Rasul-Nya? Apakah pertemuan yang bisa merendamkan rindu yang lebih lama menusuk relung jiwa ini? Tidak. Semua berkat do’a. Do’a yang mendekatkan. Do’a yang melepaskan segala kerinduan yang mendalam ini. Do’a bahasa rindu yang menautkan hati pada-Nya

Teruntuk hati yang sedang merindu, berdo’alah. Karena do’a tidak akan menghadirkan perpisahan setelah pertemuan. Dia terus erat terikat dalam hati sang perindu. Dan tentunya, lebih mendekatkan hati kepada sang pemilik hati. Meyakinkan-Nya melalui lisan yang riuh berbisik.

Tak lupa pula, untuk hati yang sedang merindukan Allah dan Rasul-Nya. Semoga lantunan do’a bisa menghantarkan diri kepada pertemuan yang paling indah sepanjang hidup.


Bertemu Rabb dan Rasul-Nya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Laporan Praktikum Kimia Menentukan Perubahan Entalpi

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA MENENTUKAN PERUBAHAN ENTALPI REAKSI   OLEH             KELOMPOK                                    : II ANGGOTA                                       : 1.       ADI YULIANTTO                                                  ...

Alarm di Meja Rias

Bismillahirrahmanirrahim “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan baginya jalan keluar (bagi semua urusannya). Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkannya (segala keperluan).” (QS. Ath-Thalaaq : 2-3) Kring kring kring ... Bunyi alarm sudah menggema di kamar tidurku. Seperti biasa, perlahan aku membuka mata dan mencoba mengumpulkan nyawa untuk bangkit dari kasur yang selalu membuatku nyaman. Kurang lebih membutuhkan waktu tiga menit untuk aku bangkit dari kasur. Mataku mulai menelisik ke arah jarum jam alarm yang ada di meja rias. Astaghfirullah. Aku tersentak kaget begitu melihat jarum jam yang ternyata tak sesuai dengan waktu yang ku atur di malam hari. Tok tok tok ... Suara ketukan pintu terdengar dari luar. Itu pasti Abang atau Ibuku yang hendak membanguniku. “Udah bangun ternyata. Kirain masih nyaman sama mimpinya”, pemilik ...

Gugurnya Sang Panji Uhud

Bismillah Matahari bersinar terlalu terik kala itu. Seperti biasa. Mekah memang seperti itu. Seorang pemuda tampan berjalan menyusuri Kota Mekah. Seantero Mekah juga tahu siapa pemuda yang tengah berjalan itu, ditambah lagi dengan ciri khas aroma parfum yang digunakannya. Parfum dari negeri Yaman, parfum mewah dan mahal yang tidak sembarangan orang memakainya. Dia pemuda yang banyak gadis memujanya, bukan hanya karena ketampanannya, tapi juga karena kecerdasan dan kecemerlangannya. Pemuda yang terlahir dari keluarga kaya dan penuh kemewahan. Tak pernah satupun keinginannya di tolak oleh kedua orang tuanya. Dia adalah Ibnu Umair, atau dikenal dengan lengkap sebagai Mush’ab bin Umair. Langkah kakinya terus menyusuri Kota Mekah hingga ia tiba di Bukit Shafa, di rumah al-Arqam bin Abi al-Arqam. Darul Arqam, begitulah kaum muslimin mengatakannya. Ia kesini bukan tanpa tujuan. Hari-harinya selalu diliputi tanda tanya mengenai sosok Muhammad yang selalu saja diperbincangkan oleh orang-orang...