Langsung ke konten utama

Ketika Allah Cemburu

"Dan hanya kepada Tuhanmu lah engkau berharap."

(Q.S Al-Insyirah :8)

Bismillahirrahmanirrahim,

Pernahkah terbesit dalam hati kita untuk mengharapkan sesuatu dari manusia? Sedikit atau banyaknya, pasti pernah. Terkadang berharap pada manusia dapat menyenangkan hati. Namun, disisi lain justru berharap pada manusia banyak kecewanya. Ketika harapan itu sepenuhnya kepada manusia, Allah akan menimpah keperihan hati. Rasa kecewa, sedih, gundah, bahkan rasa yang tak terdefinisi oleh kata. Sadarkah kita, untuk apa Allah menimpah keperihan ketika kita berharap kepada selain Dia? Allah adalah zat yang Maha Pencemburu. Dia sangat cemburu ketika kita manusia yang diciptakan-Nya justru berharap kepada ciptaan-Nya yang lain. Sementara dunia ini adalah milik-Nya. Dia yang memberi semua kebutuhan kita. Lalu, mengapa kita dengan bodohnya berharap kepada ciptaan-Nya yang sesungguhnya tak dapat memberikanmu kebahagiaan.

Hati memang tak dapat ditebak dan diterka sistem kerjanya. Terkadang ia tak ingin berharap lagi kepada manusia. Namun, terkadang dia berada dirudung kebodohan. Ketika janji manis terucap dibibir manusia, seonggok daging merah itu mudah percaya. Dan akhirnya harapan manis pun timbul dalam raga manusia.

Namun lagi. Lagi dia kecewa. Termakan ucapan manis manusia. Selain mudah berharap kepada selain-Nya. Manusia juga terlalu mudah untuk berjanji. Namun lagi. Yang salah memanglah hati yang berharap. Karena dia menggantungkan harapanya kepada manusia bukan kepada Sang Khaliq.

Jika kita pandang dari mata hati kita. Sesungguhnya berharap kepada Allah adalah sesuatu yang pasti. Allah lebih menepati janjinya daripada manusia. Lalu, lagi lagi mengapa hati ini masih terbuai oleh ucapan manusia yang terkadang tak bertanggung jawab dengan janjinya? Sekali lagi. Allah memang bermain peran disini. Dia memang Maha Pencemburu. Ketika hati ini berharap kepada selain Dia, Allah akan menimpahkan perihnya pengharapan kepada manusia. Agar kita sadar dan tak lagi berharap kepada manusia, melainkan berharap langsung kepada-Nya.

Ketika Allah cemburu. Di saat kita menduakan cinta-Nya yang indah. Anugerah terindah di dunia ini adalah ketika Allah cemburu jika kita menduakan cinta-Nya. Bukankah Allah cemburu tanda Dia mencintai kita? Bukankah Allah cemburu kepada kita tanda Dia tak ingin kita jauh dari-Nya. Maka berbahagialah ketika Allah merasa cemburu denganmu. Ketika kau ditimpah kekecewaan. Percayalah Allah sedang cemburu dan Dia ingin kau datang kepada-Nya. Dia menghentikan langkahmu yang mulai jauh. Allah ingin kau kembali pada-Nya. Allah sedang jatuh cinta denganmu. Lalu, apakah kau mau mensia-sia kan cinta terbaik di alam semesta ini?

Teruntuk kalian, dan tak lupa juga untuk hati yang menulis ini. Hati yang masih sering berharap kepada manusia. Hati yang masih bodoh terbuai dengan ucapan manis manusia. Percayalah. Hentikanlah harapanmu itu. Kembali lah kepada Allah. Kasihanilah hatimu yang sangat lelah menanggung rasa kekecawaan. Berharaplah kepada Allah. Jangan pernah berhenti. Karena kau akan mendapatkan sesuatu yang tak akan pernah terduga. Karena berharap kepada Allah akan menjauhkan hatimu dari rasa kecewa. Semangat berjuang wahai seonggok daging yang mudah terbolak-balik.

Wallahu’alam bishawab. Kepada Allah saya mohon ampun.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Laporan Praktikum Kimia Menentukan Perubahan Entalpi

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA MENENTUKAN PERUBAHAN ENTALPI REAKSI   OLEH             KELOMPOK                                    : II ANGGOTA                                       : 1.       ADI YULIANTTO                                                  ...

Alarm di Meja Rias

Bismillahirrahmanirrahim “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan baginya jalan keluar (bagi semua urusannya). Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkannya (segala keperluan).” (QS. Ath-Thalaaq : 2-3) Kring kring kring ... Bunyi alarm sudah menggema di kamar tidurku. Seperti biasa, perlahan aku membuka mata dan mencoba mengumpulkan nyawa untuk bangkit dari kasur yang selalu membuatku nyaman. Kurang lebih membutuhkan waktu tiga menit untuk aku bangkit dari kasur. Mataku mulai menelisik ke arah jarum jam alarm yang ada di meja rias. Astaghfirullah. Aku tersentak kaget begitu melihat jarum jam yang ternyata tak sesuai dengan waktu yang ku atur di malam hari. Tok tok tok ... Suara ketukan pintu terdengar dari luar. Itu pasti Abang atau Ibuku yang hendak membanguniku. “Udah bangun ternyata. Kirain masih nyaman sama mimpinya”, pemilik ...

Gugurnya Sang Panji Uhud

Bismillah Matahari bersinar terlalu terik kala itu. Seperti biasa. Mekah memang seperti itu. Seorang pemuda tampan berjalan menyusuri Kota Mekah. Seantero Mekah juga tahu siapa pemuda yang tengah berjalan itu, ditambah lagi dengan ciri khas aroma parfum yang digunakannya. Parfum dari negeri Yaman, parfum mewah dan mahal yang tidak sembarangan orang memakainya. Dia pemuda yang banyak gadis memujanya, bukan hanya karena ketampanannya, tapi juga karena kecerdasan dan kecemerlangannya. Pemuda yang terlahir dari keluarga kaya dan penuh kemewahan. Tak pernah satupun keinginannya di tolak oleh kedua orang tuanya. Dia adalah Ibnu Umair, atau dikenal dengan lengkap sebagai Mush’ab bin Umair. Langkah kakinya terus menyusuri Kota Mekah hingga ia tiba di Bukit Shafa, di rumah al-Arqam bin Abi al-Arqam. Darul Arqam, begitulah kaum muslimin mengatakannya. Ia kesini bukan tanpa tujuan. Hari-harinya selalu diliputi tanda tanya mengenai sosok Muhammad yang selalu saja diperbincangkan oleh orang-orang...