Langsung ke konten utama

Surat Cinta Anti Galau

"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."
(QS. Ar-Ra'd[13]: Ayat 28) 


Di bumi tempat berbagai makhluk hidup tinggal ini, rasa syukur kian menipis. Terutama makhluk hidup yang lebelnya Homo sapiens. Spesies yang suka mengeluh dan kurangnya rasa syukur, padahal spesies ini yang diberi amanah oleh Sang Pencipta untuk menjadi pemimpin di muka bumi untuk spesies lainnya. Tapi justru spesies ini pula yang sering menimbulkan masalah. Tentunya didasari kurangnya rasa syukur.

Galau dikit, ngeluh.

Sedih dikit, ngeluh. 

Dikasih ujian, ngeluh.

Akhirnya emosi dan amarah yang timbul menguasai jiwa. Coba bersyukur atas kesedihan dan kegalauan yang dialami. Pasti hati lebih tentram. Karena hati sadar, semua ujian itu dari Allah yang harus dilewati.

Dan itu bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.

Mungkin karena efek lapisan ozon yang kian menipis juga ya sehingga stok rasa syukur juga ikutan menipis. Coba aja lapisan ozon ga menipis. Pasti kadar syukur para Homo sapiens juga ga menipis. 

Tapi apa boleh buatlah. 

Semua kan tergantung seonggok daging yang berbentuk segitiga siku-siku atau trapesium itu. 

Pilih mana hayo? Segitiga siku-siku atau trapesium?

Terserahlah.

Yang penting namanya HATI. 

Iya HATI. Karena hati adalah muara dari seluruh sifat manusia. Jika hati sudah tertata dengan rapi. Insyaa Allah hidup juga tertata rapi. Jika hati sering bersyukur. Percayalah hidup jauh lebih bahagia dan tak ada perasaan resah gelisah. 

Amarah pun kalah.

"Woi melamun aja bro", kejutku pada temanku yang sedari tadi ku perhatikan merenung di bawah pohon yang rindang di taman kampusku.

"Astaghfirullah. Ga islam kamu ya?"

Aku cengengesan sambil menggaruk tengkuk leherku yang tak gatal. Bahkan aku sampai lupa untuk mengucapkan salam. 

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh my bro", tanganku kini merangkulnya.

"Wa'alaikumussalam", jawabnya ketus dan nada yang tak ikhlas. Alhasil tanganku pun dilepas dari bahunya.

"Sinis amat bro. Kenapa? Lagi mewek?", tanyaku sedikit santai.

"Mau ngapai kesini?", ucapnya ketus.

"Ada masalah ente?", tanyaku lagi

Dia tak menjawab. Sorot matanya menunjukkan bahwa suasana hatinya saat ini sedang tidak baik. Sedang dalam kendali syaitan.

"Gamau cerita?", lagi aku bertanya.

Dia menoleh ke arahku. Namun sorot matanya tajam menatapku. Seolah menyuruhku tidak banyak bicara dulu. Terutama untuk bertanya. Dan aku semakin sadar. Dia sedang tidak terkendali saat ini.

Aku harus bertindak.

"Amarah jangan dikuasai gini. Istighfar. Syaitan lagi sama kamu nih."

Dia memejamkan matanya. Menarik nafas dan akhirnya dia beristighfar sesuai dengan perintahku. "Astaghfirullahal'adzim."

"Lagi ada masalah kampus", ujarnya setelah ia beristighfar.

"Skripsi?", tanyaku cepat.

Dia menggeleng.

"Dosen", jawabnya singkat.

Sepertinya aku sedikit paham.

"Ada apalagi?"

Dia menggeleng. Enggan memberitahuku. "Bukan apa-apa", ujarnya.

"Siapa tau ane bisa bantu."

"Ini masalahku. Aku gamau melibatkan siapa pun."

Dia keras kepala dan sedikit tertutup memang. Tapi aku tak memaksa. Inilah pribadi dia. Dan jika itu privasi menurutnya. Aku tak boleh egois bukan?

Kali ini perhatianku tertuju pada Al-Qur'an yang ada di genggamannya.

Aku ada ide.

Aku menepuk bahunya. "Apapun masalah ente hal yang paling utama itu harus bersyukur", ujarku.

"Semua masalah ada solusinya. Syukuri aja. Tanda Allah sayang sama kamu, dia menguji kamu dengan masalah. Besar atau kecil", sambungku lagi.

"Sekarang buka deh surat cinta itu", tunjukku padanya ke Al-Qur'an yang hanya dia genggam sejak tadi.

Dia mengangkat Al-Qur'annya. Memastikan surat cinta yang ku katakan tadi adalah Al-Qur'an. "Ini?", tanyanya.

Aku mengangguk. "Buka surah ke 13 ayat 28. Terus kamu baca."

"Untuk apa?"

"Baca aja. Itu surat cinta anti galau. Kalau kamu baca itu, Insyaa Allah hati kamu bakal tentram dan ga galau kaya gini lagi."

Dia mulai membuka Al-Qur'an yang dia genggam dari tadi, dan mencari apa yang ku suruh tadi.

"Udah?"

Dia mengangguk.

"Coba baca deh."

Dia pun mulai membacanya dengan khusyuk. Dan ku akui, suaranya sangat bagus. Aku menyimak bacaannya sambil menunggu dia selesai membaca. Tak butuh waktu lama untuk membacanya karena ayat dari surah itu juga tidak terlalu panjang.

"Udah selesai?"

Dia mengangguk lagi.

"Sekarang baca artinya."

"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."

"See? Cuma mengingat Allah kamu bakal tenang. Itu obatnya. Jangan dibawa pusinglah. Apalagi emosi kaya gini. Muka ente nyeremin kalau emosi. Sebelas dua belasa sama syaitan"

"Kurang asam ente. Emang ente pernah lihat syaitan?"

"Kalau ente lagi emosi, itu tuh wujudnya syaitan."

Dia terdiam.

Suasana kembali tegang. Dia tak bicara lagi. Dan kembali, aku harus mencairkan suasana kalau sudah seperti ini.

"Masih galau?", tanyaku mencarikan kesepian yang merayap.

"Siapa yang galau?"

"Ya entelah. Masa ane."

"Ane ga galau cuma sedih dan butuh ketenangan."

"Sedih dan galau gak ada gunanya. Kalau ente lagi sedih jangan dibawa emosi, makanya noh jadi kaya syaitonirojjim muka ente. Buka tuh Al-Qur'an yang sering ente bawa. Dibaca. Tadabburi artinya juga. Pasti lebih tenang."

"Ente emang sahabat terbaik ane. Jazakallah khairan bro. Ente emang penyelamat ane", ujarnya sambil merangkul dan menepuk bahuku pelan.

"Bukan ane penyelamat tapi itu Surat Cinta Anti Galau dari Allah untuk Ente."

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Laporan Praktikum Kimia Menentukan Perubahan Entalpi

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA MENENTUKAN PERUBAHAN ENTALPI REAKSI   OLEH             KELOMPOK                                    : II ANGGOTA                                       : 1.       ADI YULIANTTO                                                  ...

Menyesal

Bismillahirrahmanirrahim “ Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ” (QS. An Nisa’: 110)             Ba’da Maghrib. Malam Jum’at, 13 Jumadal Akhir 1441 Hijriah ... Suara salam dari sang imam masjid sudah menggema. Seketika riuh suara anak-anak pun ikut terdengar diikuti dengan suara langkah kaki mereka yang berlari menghambur keluar masjid. Seperti biasa, sebagian dari mereka ada yang langsung kembali pulang atau berlarian saling kejar dengan temannya di halaman masjid atau bahkan mereka bergegas pergi ke rumah guru ngaji untuk melaksanakan rutinitas mengaji mereka selepas maghrib. Melihat itu saja bisa membuatku tersenyum bahagia. Iya, bahagia rasanya ketika aku masih memiliki waktu untuk kembali ke kampung halaman pada masa liburan. Aku bisa melihat banyaknya aktivitas or...

Alarm di Meja Rias

Bismillahirrahmanirrahim “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan baginya jalan keluar (bagi semua urusannya). Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkannya (segala keperluan).” (QS. Ath-Thalaaq : 2-3) Kring kring kring ... Bunyi alarm sudah menggema di kamar tidurku. Seperti biasa, perlahan aku membuka mata dan mencoba mengumpulkan nyawa untuk bangkit dari kasur yang selalu membuatku nyaman. Kurang lebih membutuhkan waktu tiga menit untuk aku bangkit dari kasur. Mataku mulai menelisik ke arah jarum jam alarm yang ada di meja rias. Astaghfirullah. Aku tersentak kaget begitu melihat jarum jam yang ternyata tak sesuai dengan waktu yang ku atur di malam hari. Tok tok tok ... Suara ketukan pintu terdengar dari luar. Itu pasti Abang atau Ibuku yang hendak membanguniku. “Udah bangun ternyata. Kirain masih nyaman sama mimpinya”, pemilik ...