Langsung ke konten utama

Semesta Subuh

Berada di perpustakaan terkadang bisa membuat lebih tenang dan nyaman. Suasana yang sepi, teratur dan tak terlalu sesak untuk dirasakan. Tenggelam dalam setiap lembaran kata yang menambah pengetahuan luas.

Gubraaak

Suara yang sangat terjelas terdengar di telingaku cukup membuatku kaget. Aku mencoba mengalihkan perhatianku. Dan itu bersumber dari seseorang yang sangat familiar bagiku.

Dia sahabatku.

Beberapa detik lalu dia sepertinya tersandung dan akhirnya terjatuh diantara rak-rak dekat aku duduk sekarang. Sungguh malang. 

"Bantu aku", ujarnya sambil menepuk bahuku. Sudah menjadi dugaanku. Pasti dia kesini untuk menjumpaiku.

Napasnya memburu. Terlihat sangat lelah. Seperti baru dikejar sesuatu yang sangat menakutkan. Seperti makhluk ghaib.

"Tarik napas dulu atuh, pake salam kalau nyapa", jawabku dengan tenang sambil mencoba memegangi bahunya untuk meredakan rasa lelahnya.

"Duduk dulu sini. Atur napas dulu", ajakku padanya sambil menepuk nepuk bangku yang ada disebelahku.

Hahuhahuhahu

Suara napasnya masih memburu. Ritmenya belum teratur, aku mencoba sedikit membantunya dengan mengelus bagian punggungnya.

"Istighfar", ujarku.

Setelah sekian detik aku menunggunya untuk kembali normal dengan napasnya. Dan sekarang keadaannya sudah sedikit membaik.

"Ada apasih?", tanyaku langsung tanpa basa-basi.

"Sampai kaya gitu? Tadi kamu jatuh gapapa?", tanyaku lagi.

Dia menggeleng cepat.

"Engga. Itu ga penting mau sakit atau engga. Ada yang lebih penting dari seberapa luasnya lautan dia dunia ini."

Cukup hiperbola.

"Apa itu?", tanyaku penasaran.

"Kamu tau. Aku remedial fisika dan satu-satunya yang remedial di kelas. Ya Allah!! Apa salah hamba? Sampai harus remedial sendiri sekelas. Padahal aku udah belajar mati-matian. Udah belajar sama kamu. Tetap aja remedial", dia menjelaskan panjang lebar dengar suara yang menggelegar dan tangan yang ia tangkupkan ke wajahnya.

Dia terlihat benar-benar frustasi. 

Untung saja, suaranya yang menggelegar tadi tidak membuat kami ditegur oleh penjaga perpus. Kebetulan saja. Karena penjaga sedang makan siang mungkin.

"Sssst. Pelan-pelan. Ini perpus, nanti kita di tegur dan disuruh keluar."

"Iya-iya maaf."

"Lalu masalahnya apa?", tanyaku lagi yang masih belum mengerti dengan permasalahannya.

Karena yang ku tau, sahabatku ini memang sangat lambat dalam menerima pelajaran fisika di jaringan otaknya. Dia tidak bodoh, hanya saja kalau sudah fisika otaknya melambat. Tapi kalau untuk Biologi. Jangan ditanya. Tanaman jenis apapun dia tau nama latinnya sesuai dengan tata nama binomial nomenclatur.

Alhasil, nilai fisika dia selalu dibawah KKM dan selalu remedial. Biasanya juga dia tidak mempermasalahkan hal ini, namun entah ada apa dengannya hari ini. Entah mengapa umpatan pun keluar dari mulutnya.

"Kamu tau apa tugasku yang dikasih Bu Lisa?", tanyanya dengan wajah yang menegangkan.

Aku menggeleng pelan.

"Aku disuruh foto gugus orion. ASTAGHFIRULLAAAH!!", ujarnya dengan nada yang tinggi dan sedikit miris terdengar.

"Emang itu ada dipelajaran kita ya?", tanyaku heran. Pasalnya memang fisika dengan astronomi sekarang kan sudah berbeda.

"Aku juga gatau. Kata Bu Lisa, dia sudah lelah menghadapiku yang tak pernah lulus dengan fisika, jadinya disuruh tugasnya yang begituan. Pusing adek kak."

"Sabar", ucapku sambil mengelus punggungnya.

"Aku bantu ya?", tanyaku memberi tawaran padanya.

"Beneran? alhamdulillah. Dimana coba bisa foto gugus orion? Aaaarg", ucapnya dengan nada yang frustasi. Dan mulai mengacak kain jilbabnya.

Aku sedikit miris melihatnya begini.

"Hei, itu ujian dari Allah. Dibawa santai aja. Jangan disesali, ambil pelajarannya, dan terutama dijalanai dengan ikhlas. Istighfar. Allah ga suka liat orang yang ngeluh. Di dunia ini ga ada yang sempurna. kamu pasti bisa ngadapinya. Aku percaya. Aku bakal bantu kamu, Insyaa Allah", ucapku memberikan sedikit perkataan yang menenangkan.

"Makasihyaaa. Kamu memang sahabat terbaikku."

Aku tersenyum padanya. Kami pun saling berpelukan untuk menikmati indahnya persahabatan yang bisa dibilang sudah kami jalin sangat lama. Di saat aku atau pun dia yang sedang sedih, beginilah kami. Saling memberi semangat dan solusi. Dan alhamdulillah, masalah selalu terselesaikan dengan baik.

"Mau tau dimana bisa foto gugus orion?", tanyaku padanya.

"Iya, dimana?"

"Semesta langit subuh", jawabku dengan senyumku.

Dia terlihat bingung. Menggaruk tengku kepalanya yang mungkin tak gatal.

"Bang Al ada teleskop kan?"

Dia mengangguk.

"Oke mudah kalau gitu. Nanti masalah foto Bang Al pasti lebih tau, nanti aku temeni di semesta subuh untuk dapeti itu. Kamu izin dulu sama Bang Al."

"Maksud kamu di subuh hari?"

Aku mengangguk mantap.

"Semesta di langit subuh. Pernah mencoba melihatnya? Kamu akan terperangah. Semesta khusyuk di subuh dengan suasana tenang tanpa beban. Suara tasbih ayam dan jangkrik meringkuk mengiringi sepinya subuh. Lalu gugus orion begitu indah terlukis di atas langit yang masih gelap namun tak menimbulkan kekelaman."

"Oke kalau gitu aku siap! Kapan? Besok bisa kan?", tanyanya dengan semangat.

"Untung kamu lagi beruntung. Sekarang lagi orion. Jadi besok bisa, kamu atur deh sama Bang Al. Aku cuma nemeni nanti loh ya. Sekalian pengen liat juga. Pasti indah bangeeet", ujarku padanya dengan semangat.

"Iya-iya. Jazakillah khairan katsiran sahabat terbaikuuuuu.", ucapnya sambil memelukku dengan sangat erat. Membuatku sulit untuk bernafas beberapa detik.

Namun, rasanya bahagia.

Dapat membantu sahabat kesayanganku sekaligus memanfaatkan kesempatan untuk melihat bintang melalui teleskop langsung di semesta subuh yang selama ini hanya ku pandang dengan mata telanjang saja. Dan aku yakin itu akan menjadi lebih indah.

Tak salah bukan? Hehehehe.

Akhirnya Sang Pemburu Subuh dapat melihat bintang lebih dekat lagi. Percayalah, jika kau penganggum Semesta Subuh, melihat gugus orion di langit dengan mata telanjang saja sudah membuatmu cukup tersenyum dan semakin menguatkan mu bahwa Semesta Subuh bukan waktu yang sembarangan. Dia bisu.

Bisu bahwa dia indah.

Bisu untuk orang yang tidak pernah bangkit dari tidur nyenyaknya.

Bisu dengan manusia yang tak pernah bermunajat dengan Allah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Laporan Praktikum Kimia Menentukan Perubahan Entalpi

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA MENENTUKAN PERUBAHAN ENTALPI REAKSI   OLEH             KELOMPOK                                    : II ANGGOTA                                       : 1.       ADI YULIANTTO                                                  ...

Alarm di Meja Rias

Bismillahirrahmanirrahim “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan baginya jalan keluar (bagi semua urusannya). Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkannya (segala keperluan).” (QS. Ath-Thalaaq : 2-3) Kring kring kring ... Bunyi alarm sudah menggema di kamar tidurku. Seperti biasa, perlahan aku membuka mata dan mencoba mengumpulkan nyawa untuk bangkit dari kasur yang selalu membuatku nyaman. Kurang lebih membutuhkan waktu tiga menit untuk aku bangkit dari kasur. Mataku mulai menelisik ke arah jarum jam alarm yang ada di meja rias. Astaghfirullah. Aku tersentak kaget begitu melihat jarum jam yang ternyata tak sesuai dengan waktu yang ku atur di malam hari. Tok tok tok ... Suara ketukan pintu terdengar dari luar. Itu pasti Abang atau Ibuku yang hendak membanguniku. “Udah bangun ternyata. Kirain masih nyaman sama mimpinya”, pemilik ...

Gugurnya Sang Panji Uhud

Bismillah Matahari bersinar terlalu terik kala itu. Seperti biasa. Mekah memang seperti itu. Seorang pemuda tampan berjalan menyusuri Kota Mekah. Seantero Mekah juga tahu siapa pemuda yang tengah berjalan itu, ditambah lagi dengan ciri khas aroma parfum yang digunakannya. Parfum dari negeri Yaman, parfum mewah dan mahal yang tidak sembarangan orang memakainya. Dia pemuda yang banyak gadis memujanya, bukan hanya karena ketampanannya, tapi juga karena kecerdasan dan kecemerlangannya. Pemuda yang terlahir dari keluarga kaya dan penuh kemewahan. Tak pernah satupun keinginannya di tolak oleh kedua orang tuanya. Dia adalah Ibnu Umair, atau dikenal dengan lengkap sebagai Mush’ab bin Umair. Langkah kakinya terus menyusuri Kota Mekah hingga ia tiba di Bukit Shafa, di rumah al-Arqam bin Abi al-Arqam. Darul Arqam, begitulah kaum muslimin mengatakannya. Ia kesini bukan tanpa tujuan. Hari-harinya selalu diliputi tanda tanya mengenai sosok Muhammad yang selalu saja diperbincangkan oleh orang-orang...