“Barangsiapa yang membaca Al-Qur’an,
mempelajari, dan mengamalkannya, maka pada hari kiamat nanti Allah memakaikan
kepada kedua orang tua nya Mahkota dari cahaya seperti cahaya matahari dan juga
mengenakan kepada kedua orang tuanya perhiasan yang tidak ia kenakan sebelumnya
ketika di dunia. Lantas keduanya bertanya, ‘Apa yang telah kami perbuat
sehingga kami memperoleh semua ini?’ Allah menjawab, ‘Karena kamu telah
mengajarkan Al-Qur’an kepada anakmu.’
(HR. Imam Hakim)
Bismillahirrahmanirrahiim.
Hari ini terasa begitu gerah. Matahari memang
terik lebih cerah hari ini. Namun syukur saja tidak terlalu menyengat, hanya
sedikit gerah. Kaki ku kali ini melangkah menuju bangunan ternyaman diseluruh
dunia. Masjid. Rumah Allah. Waktu dzuhur akan masuk sebentar lagi.
Masih lama lagi sih sebenarnya.
Tapi tidak terlalu lama.
Tapi tidak terlalu lama.
Namun aku lebih suka berada di masjid. Setidaknya
akan ada hal yang bermanfaat yang ku dapat. Seperti saat masuk ke dalam masjid
saat ini, aku disuguhi banyak anak-anak yang sedang berkutat dengan mushaf
Al-Qur’anul Kariim. Mereka tampak begitu serius dengan mushaf mereka. Seperti sedang
mengahapal. Aku pun mencoba mendekat dan ingin melihat lebih detail apa yang
sedang mereka lakukan.
Dan benar dugaanku.
Mereka sedang menghapalkan Al-Qur’an. Dan yang
berbeda dari penglihatanku. Seperti ditusuk duri diri ini ketika melihat mereka
yang menghapal adalah anak-anak yang dalam keterbatasan. Aku mendekat. Mencoba sedikit
berbincang. Namun aku takut menganggu.
“Assalamu’alaikum Kak”, ujar seorang anak
perempuan dari arah belakangku.
“Eh? Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh
dek”, jawabku lembut.
“Kakak mau ikut ngapal bareng kita juga?”,
tanyanya tanpa basa-basi.
“Eh engga. Kakak mau lihat kalian ngapal aja.
Boleh kan?”, ucapku padanya.
“Boleh Kak. Tapi kenapa kakak ga ikut ngapal
juga kak?”, tanyanya lagi. Dan kali ini pertanyaannya sedikit menusuk relung
hatiku. Apa yang harus ku jawab?
“Kakak udah hapal Al-Qur’an ya?”, tanyanya
lagi dengan polos. Dan lagi relung hatiku kembali mencelos. Bulu remangku mulai
bergidik.
Aku tersenyum. “Lagi proses menghapal juga
sayang.”
“Kalau gitu kita sama dong Kak”, ujarnya
dengan semangat.
Aku pun tersenyum mendengar jawabannya yang
begitu semangat. Sekilas tak ada yang berbeda dari anak perempuan yang sekarang
ada disebelahku ini. Namun, setelah ku teliti sepertinya ada masalah dengan
penglihatannya.
“Kalian tiap hari ngapal gini?”, tanyaku
membuka pembicaraan lagi dengannya.
“Iya kak. Setelah selesai belajar di sekolah.
Kita ke masjid untuk nyetor ataupun nambah hapalan”, jawabnya lagi dengan
semangat.
“Ada gurunya?”
Dia mengangguk. “Ada kak. Sebentar lagi
datang.”
Aku tersenyum lagi. Hatiku kembali bergetar
melihat mereka begitu semangat. Merasa tidak ada beban dengan kekurangan yang
mereka punya.
“Kami semua yang disini ga bisa buat apa-apa
di dunia kak. Seperti aku, kemungkinan bentar lagi mataku diambil penglihatannya
sama Allah. Tapi aku ga marah sama Allah. Karena aku yakin, Allah ngambil
penglihatan aku supaya aku ga bisa lihat yang buruk di dunia.”
Booom! Seperti ada bom yang meledak dihatiku
ketika mendengar penuturan anak perempuan yang disebelahku ini. Aku tak tahu
ingin berkata apa.
“Dunia fana Kak. Karena kita ga bisa buat
banyak di dunia. Kita coba buat jadi yang terbaik di akhirat. Yaitu menjadi
penghapal Al-Qur’an kak. Pekerjaan mulia tapi tanggung jawabnya seumur hidup
dan hadiahnya luar biasa di akhirat. Mahkota yang bersinar cerah”, ujarnya lagi
dengan semangat dan senyum yang tak pernah padam dari wajahnya.
“Aku mau banget dapat Mahkota cerah dari
Allah, pasti indah banget”, sambungnya lagi dengan semangat.
Aku tersenyum samar. Mataku tak bisa
bersahabat. Dia mulai mengeluarkan tetesan bening. Dan hatiku, entah bagaimana
perasaanku sekarang.
“Kakak jangan lupa ngapal juga ya Kak. Biar dapat
Mahkota yang cerah juga Kak, terus kita bisa jumpa lagi di surga nya Allah Kak.”
“Insyaa Allah ya. Terima kasih sudah
memotivasi Kakak ya”, ucapku sambil mengelus kepalanya dengan lembut.
“Sama-sama Kak. Kakak pasti ga ada waktu untuk
ngapal ya? Sibuk kuliah ya Kak?”, tanyanya.
Aku tertawa pelan. Ucapannya memang benar. Terkadang
aku selalu beralasan bahwa aku sibuk dengan kuliahku, dan itu hanya alasan. Sekali
lagi itu hanya alasan. Masih banyak yang lebih sibuk dariku dan lebih tidak
beruntung dariku memiliki waktu luang untuk mengahapalkan Qalam ilahi Rabbi. Seperti
di depan mataku saat ini.
“Kakak pasti bisa kok Kak, buktinya kami juga
bisa. Kami juga sekolah Kak. Jangan kalah sama kami yang punya keterbatasan ya
Kak, karena Allah pasti minta pertanggung jawaban sama kita kalo alasan kita
gabisa ngapal Al-Qur’an karena kita sibuk.”
“Allah pasti nunjuki orang-orang yang lebih
sibuk dari kita dan ternyata mereka bisa ngapal Kak. Berat Kak. Kakak ga akan
kuat. Hahaha”, ujarnya dengan sedikit gaya bahasa yang sedang booming sekarang.
Dan kata-katanya sangat menyentuh hatiku.
“Terima kasih ya. Kalian anak-anak yang hebat.
Inysaa Allah Kakak akan raih Mahkota cerah itu dan kita jumpa di surga lagi ya”,
ucapku dengan tetesan yang jatuh di pipiku.
“Jangan nangis, Kak”, ujarnya sambil memelukku
erat. Aku pun membalas pelukannya.
Dan siang ini tidak menjadi siang yang gerah
lagi buatku. Siang yang menimbulkan ketenangan jiwa sekaligus hatiku.
Adzan berkumandang.
Seketika perbincangan kami selesai. Dan dia
mulai berhambur keluar dengan temannya belomba-lomba untuk mengambil wudhu.
Siang yang menyejukkan.
Komentar
Posting Komentar