"Sunnguh Kami telah memberimu nikmat yang banyak. Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah)."
-Q.S. Al-Kausar : 1-2-
Wangi khas bumbu dapur sudah tercium di indera pembauanku. Ku lirik dinding di depanku untuk melihat benda berbentuk lingkaran berangka. Masih pagi buta. Dan Bunda sudah berkutat di dapur. Akhirnya aku bangkit dan ke kamar kecil terlebih dahulu untuk membersihkan segala yang kotor saat tidur. Setelah itu aku pergi melangkah menuju dapur. Tempat Bunda bertemu dengan teman-temannya.
“Bun, mau masak apa?”, tanyaku menghampiri Bunda yang masih sibuk menggongseng bumbu yang harumnya menyeruak.
Bunda tak tampak terkejut. Justru tersenyum kepadaku dengan tangan yang masih berkutat dengan spatula.
“Tumis daun ubi kesukaan kakak.”
Aku tersenyum bahagia mendengar jawaban Bunda. Masakan Bunda yang paling ku suka. Dan Cuma Bunda yang bisa masak dengan takaran yang pas.
“Apa yang bisa kakak bantu Bun?”, tanyaku lagi lebih semangat.
“Kakak udah tahajud? Masih bisa nih tahajud.”
“Alhamdulillah udah, Bun.”
Bunda tersenyum lagi. Senyuman yang sangat meneduhkan bagiku dan bagi semua penghuni rumah. ”Kakak ambil sayurnya di kulkas, terus cuci ya Kak.”
Aku mengangguk dan langsung melangkahkan kaki menuju kulkas untuk mengambil sayur dan setelah itu langsung menuju wastafel untuk mencucinya. Ku lirik Bunda yang sibuk dengan racikannya. Bunda memang begitu. Sangat totalitas dalam memasak. Bunda sama sekali tidak pernah mengecewakan kami dengan masakannya. Selalu sempurna hasilnya. Tidak seperti aku yang menggoreng tempe saja kadang gosong. Tapi Bunda bilang itu proses pembelajaran, salah dalam belajar itu biasa, Bunda juga dulu seperti aku. Tidak langsung handal dalam memasak.
Setelah beberapa menit berselang, akhirnya masakan akan siap disajikan. Sekarang, aku ditugasi Bunda menunggu gorengan ayam. Bunda sendiri sedang membereskan sampah-sampah organik dari sayuran dan sejenisnya. Kulirik ke arah dinding. Jam sudah menunjukkan waktu shubuh akan tiba, suara murottal ngaji pun sudah terdengar.
“Kak, ayamnya udah matang belum?”, tanya Bunda padaku.
“Dikit lagi Bun”, jawabku.
“Biar Bunda aja yang nunggui ayamnya, Kak. Kakak siap-siap untuk shalat subuh sekalian banguni abang ya. Suruh ke masjid.”
“Ayah ga dibanguni sekalian Bun?”, tanyaku.
“Ayah udah bangun, Kak. Banguni abang aja sana.”
“Siap Bundaku sayang.”
Aku pun melangkahkan kaki ku menuju mushalla rumah untuk mempersiapkan segala sesuatu yang harus dipersiapkan untuk shalat jamaah bersama Bunda. Belum jauh aku melangkah, Bunda kembali memanggilku.
“Kak jangan lupa cuci tangan. Itu tangannya berminyak.”
Aku tersenyum kikuk. Malu sama Bunda, kenapa aku bia sampai lupa untuk mencuci tanganku. “Hehehe iya Bun, kakak lupa.”
Bunda menggelengkan kepalanya melihat tingkahku. Setelah mencuci tangan aku langsung berlari menuju ke mushalla untuk menyiapkan peralatan shalat sekaligus membersihkannya. Ku dengar teriakan Bunda yang memperingatiku untuk tidak berlari agar tidak jatuh. Namun, aku tak menghiraukan. Tak lama lagi shubuh masuk. Dan aku belum membereskan mushalla. Belum lagi membangunkan abangku yang ku tebak akan sangat sulit dibangunkan karena tadi malam dia bergadang untuk mengerjakan skripsinya.
Mushalla sudah ku bereskan. Sajadah, mukenah dan lain-lainnya sudah ku selesaikan dengan cepat sekarang giliran membangunkan abangku. Aku melangkahkan kakiku ke kamarnya. Beruntung. Kamarnya tidak dikunci.
Aku melangkah ke arah ranjangnya dan duduk di tepinya. “Bang, udah mau shubuh disuruh Bunda sama Ayah ke masjid tuh.”
Dia hanya berdehem tanpa ada pergerakan untuk bangun. Sudah ku duga tadi bukan? dia akan sangat sulit dibangunkan, jika sudah begini lebih baik aku membangunkan kerbau dari pada dia.
“Banguuuuun atuh Bang. Pergi ke masjid sana. Udah mau adzan nih”, aku masih mencoba untuk membangunkannya dengan mengguncangkan tubuhnya.
“Abang shalat di rumah aja, Kak”, jawabnya dengan suara yang masih parau dan tubuh yang masih bergemulut dalam selimut.
Kali ini aku mencoba mengguncangkan badannya dengan lebih keras. “Baaang ih, bangun atuh. Shalat shubuh jangan dilewatkan.”
“Masih panjang waktunya, Kak.”
“Bundaaaa ...... “, aku berteriak memanggil Bunda. Sudah pasrah. Kalau sudah begini aku tak akan bisa membangunkan Abang.
Selang beberapa menit Bunda datang dengan mukenah yang sudah terpasang di tubuhnya. “Kak, kenapa teriak-teriak?”, tanya Bunda
“Nih lihat Bun. Abang ga mau bangun.”
Bunda menggelengkan kepalanya dan menghela napas melihat abang yang masih terjaga dari tidurnya. Bunda duduk ditepi ranjang dan mencoba untuk membanguni abang.
“Bang, Ayah udah nunggu di bawah mau ke masjid. Bangun ayok.”
Abang mulai membuka matanya. Tampak memerah dan terlihat seperti panda, akhir-akhir ini abang memang sering bergadang karena mengerjakan skripsinya. Setelah sedikit sadar abang pun bangkit dari tidurnya, namun masih dalam keadaan duduk.
“Bentar lagi Bun, shubuhnya juga masih panjang kan?”
Bunda tersenyum sambil mengelus kepala abang. “Abang siapa?”
Aku sedikit kaget dengan pertanyaan Bunda. Kenapa Bunda bertanya seperti itu pada abang? Abang juga pasti merasakan hal yang sama.
“Maksud Bunda?”, tanya abang yang sudah sedikit lebih sadar.
“Abang siapa? Kakak, Bunda, Ayah itu siapa sih?” , pertanyaan Bunda kali ini sepertinya menyiratkan sesuatu hal. Bunda memandangiku dan abang bergantian.
“Bang, kita Cuma manusia biasa. Bukan sahabat nabi, bukan Amirul mukminin, bukan para tabi’in. Kita ga pernah shalat bareng Rasulullah atau sahabat beliau. Kita ga pernah shalat di masjidnya Rasul. Lantas abang masih mau nunda waktu shalat dengan status kita bukan siapa-siapa, Nak?”
Itu bukan pertanyaan dari Bunda melainkan penyataan yang menyayat hatiku. Bunda benar. Siapa aku? Siapa kita? Kenapa kita terlalu berani menunda waktu shalat sementara dihadapan Allah kita bukan siapa-siapa. Bukan nabi. Bukan kerabat nabi. Bukan sahabat nabi. Bukan manusia yang hidup di zaman nabi. Para sahabat dan kerabat nabi yang sudah di jamin surga saja, shalat tepa pada waktunya. Lalu dengan keangkuhan kita yang besar, santai kah kita dalam melakukan shalat? Hanya karena dunia? sementara Allah selalu memberikan kelimpahan nikmat kepada kita.
Tak bisa kah kita prioritaskan Allah?
Tak bisa kah kita prioritaskan Allah?
Abang mulai merenungi kata-kata Bunda. Dan ku pastikan setelah ini abang pasti sadar dengan kesalahannya. Begitulah Bunda. Sindiran lembutnya selalu on point.
“Jangan coba menunda shalat Bang, kita ga pernah tau 1 detik ke depan nadi kita itu masih berdetak atau engga. Kalau ga berdetak lagi, dan kita dalam keadaan tidak shalat. Mau bilang apa kita sama Allah?”, Bunda melanjutkan kalimatnya sambil mengelus kepala abang.
“Ayah udah nunggu di bawah. Abang siap-siap ya”, akhirnya Bunda pun pergi meninggalkan aku dan abang. Memberi ruang untuk aku atau pun abang merenungkan apa yang di katakan Bunda.
Abang tak memprotes lagi. Ia sudah menyadari kesalahannya dan merenungi kata-kata Bunda tadi. Begitupun denganku. Bunda memang terbaik dalam menasihati. Lemah lembut namun bisa dapat menyadarkan aku dan abang jika sudah salah. Dan kali ini Bunda benar.
Siapa kita?
Request dong min tentang Mahkota Akhirat :v :)
BalasHapus