Langsung ke konten utama

Kain Penutup Mahkota

"Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, "Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu agar mereka lebih dikenal sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."
-Q.S. Al-Ahzab : 59-

🍂🍂🍂

Aku mengayuhkan sepedaku santai menuju taman kota. Hari ini aku ada janji dengan temanku untuk mengerjakan tugas bersama di perpustakaan kota. Tak perlu butuh waktu lama aku tiba di taman kota. Keadaan taman kota saat ini sangat ramai.

Aku memarkirkan sepedaku di parkiran yang tersedia. Tak heran. Jika sudah masuk sore hari, taman kota akan terlihat ramai. Ada yang sekedar datang untuk santai, jalan jalan sore, sampai datang untuk belajar di perpustakaan juga ada. Seperti aku.

Taman kota bukan sekedar taman biasa. Taman kota ini dilengkapi dengan fasilitas perpustakaan, masjid, dan fasilitas bermain anak-anak.

Aku segera memasuki perpustakaan. Aku mengira bahwa temanku sudah datang dan menungguku. Ternyata setelah aku masuk dan menelusuri perpustakaan dia belum ada. Alhasil aku lah yang menunggu. Sambil membaca buku.

"Hi!", sapa seseorang yang sudah ku tunggu dari beberapa menit lalu. Akhirnya dia datang juga.

Tapi tunggu.

Ada yang beda darinya. Kali ini aku tidak melihatnya menggunakan kain yang menutupi mahkotanya.

Jilbab.

Ya, dia tidak memakai jilbab kali ini. Dan ini membuatku terperangkap kaget.

Aku mengernyitkan keningku. Memasang wajah kebingungan dan wajah menyelidiki saat menatapnya.

"Kenapa? Ada yang aneh?", tanya nya tanpa merasa ada yang salah.

"Kemana penutup mahkota nya, mbak? Nyangkut dimana?", sindirku dengan sedikit halus.

Dia yang masih berdiri mulai bergerak untuk duduk di bangku kosong yang ada di sebelahku.

"Hahaha. Tadi aku ga sempat makenya. Buru buru kesini jadi ga aku pake deh",  jawabnya santai dengan tawanya.

"Ga lucu loh. Kenapa kamu ketawa? Jilbab kamu bukan sembarang kain. Kalo Allah saat ini juga buru-buru mau ambil nyawa kamu gimana? Dalam keadaan ga berhijab loh. Ga malu?", sindirku lagi. Dan kali ini sedikit lebih tegas terdengar.

"Kamu ih, jangan ngomong gitu. Aku jadi merinding nih."

"Takut mati?"

"Ya takut lah. Udah ah yuk belajar", ajaknya mengalihkan pembicaraan. Aku tau dia tidak suka berbicara tentang kematian.

"Tapi kamu ga takut melanggar perintah Allah. Perintah untuk memakai jilbab, padahal kamu udah baligh", pancingku lagi untuk melanjutkan pembicaraan tentang jilbab.

Dia diam.

"Jilbab itu bukan cuma kain yang bisa kamu buka tutup begini. Jangan cari alasan kalo pake jilbab ribet. Buka pake jilbabnya yang ribet. Tapi hati kamu yang ribet."

"Kain penutup mahkota kamu itu berharga. Jangan jatuhkan harganya dengan alasan yang ga berharga sama sekali. "

"Jadi aku harus bagaimana?", tanyanya dengan suara yang lebih rendah.

"Kamu harus istiqomah!", ujarku bersemangat.

"Tapi-

"Insyaa Allah aku akan bantu kamu. Kita sama sama jalan menuju kebaikan ya. Jangan di buka lagi ya jilbab kamu. Jilbab itu identitas kamu sebagai seorang muslimah yang taat."

"Aku belum siap pake jilbab karena perilaku aku juga belum baik."

"Memakai jilbab itu wajib. Berperilaku baik itu juga wajib. Tapi kalo kamu nunggu perilaku kamu baik dulu baru berjilbab, kamu ga akan pernah baik. Karena salah satu kebaikan itu kamu harus berjilbab."

Dia memandang ke arahku. Lengkukan dibibirnya terukir. Sangat manis. Lebih manis jika dia memakai jilbab.

"Terimakasih ya bu ustadzah atas kajiannya hari ini. Insyaa Allah saya tidak akan membuka kain penutup mahkota saya yang berharga lagi", ucapnya dengan semangat dan seringai godaannya seperi biasa.

"Mulai deh."

Dia tertawa kecil. Dan mulai mengambil bukunya di dalam tas.

"Yaudah yuk belajar", ajaknya sambil meletakkan buku di atas meja.

"Janji kan ga buka jilbab lagi?", tanyaku memastikan.

Dia mengangguk mantap. "Bimbing aku", bisiknya pelan.

Aku tersenyum bahagia. "Insyaa Allah kita jalan beriringan ya."

Dia mengangguk dan tersenyum padaku. Dan mulai membuka bukunya mencari materi yang akan kami bahas bersama.

Insyaa Allah. Dia bukan hanya menjadi sahabat dunia ku saja. Tapi akan menjadi sahabat akhiratku. Sama sama menuju kebaikan dengan menjalankan perintahNya.

Mahkota perempuan adalah hal yang sangat berharga. Dan akan lebih berharga jika mahkota itu di tutup rapat dan ga sembarang orang bisa meraihnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Laporan Praktikum Kimia Menentukan Perubahan Entalpi

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA MENENTUKAN PERUBAHAN ENTALPI REAKSI   OLEH             KELOMPOK                                    : II ANGGOTA                                       : 1.       ADI YULIANTTO                                                  ...

Alarm di Meja Rias

Bismillahirrahmanirrahim “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan baginya jalan keluar (bagi semua urusannya). Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkannya (segala keperluan).” (QS. Ath-Thalaaq : 2-3) Kring kring kring ... Bunyi alarm sudah menggema di kamar tidurku. Seperti biasa, perlahan aku membuka mata dan mencoba mengumpulkan nyawa untuk bangkit dari kasur yang selalu membuatku nyaman. Kurang lebih membutuhkan waktu tiga menit untuk aku bangkit dari kasur. Mataku mulai menelisik ke arah jarum jam alarm yang ada di meja rias. Astaghfirullah. Aku tersentak kaget begitu melihat jarum jam yang ternyata tak sesuai dengan waktu yang ku atur di malam hari. Tok tok tok ... Suara ketukan pintu terdengar dari luar. Itu pasti Abang atau Ibuku yang hendak membanguniku. “Udah bangun ternyata. Kirain masih nyaman sama mimpinya”, pemilik ...

Gugurnya Sang Panji Uhud

Bismillah Matahari bersinar terlalu terik kala itu. Seperti biasa. Mekah memang seperti itu. Seorang pemuda tampan berjalan menyusuri Kota Mekah. Seantero Mekah juga tahu siapa pemuda yang tengah berjalan itu, ditambah lagi dengan ciri khas aroma parfum yang digunakannya. Parfum dari negeri Yaman, parfum mewah dan mahal yang tidak sembarangan orang memakainya. Dia pemuda yang banyak gadis memujanya, bukan hanya karena ketampanannya, tapi juga karena kecerdasan dan kecemerlangannya. Pemuda yang terlahir dari keluarga kaya dan penuh kemewahan. Tak pernah satupun keinginannya di tolak oleh kedua orang tuanya. Dia adalah Ibnu Umair, atau dikenal dengan lengkap sebagai Mush’ab bin Umair. Langkah kakinya terus menyusuri Kota Mekah hingga ia tiba di Bukit Shafa, di rumah al-Arqam bin Abi al-Arqam. Darul Arqam, begitulah kaum muslimin mengatakannya. Ia kesini bukan tanpa tujuan. Hari-harinya selalu diliputi tanda tanya mengenai sosok Muhammad yang selalu saja diperbincangkan oleh orang-orang...