Langsung ke konten utama

Jas Putih

Rintikan hujan masih terdengar di beranda teras rumahku. Airnya yang bening jatuh tetes demi tetes. Meskipun hujan tak sederas tadi, namun tetap saja menyisahkan udara yang dingin dan angin masih melambai-lambai yang menyisahkan daun jatuh dari tangkainya. Secangkir kopi milik Ayah di meja terlihat sekumpulan kepulan asap, menunjukkan kopi itu akan menghangatkan suasana ataupun menghangatkan Ayah. Hampir 2 jam aku duduk bersama Ayah di teras, dan sudah banyak yang kami ceritakan sejak tadi.

“Ayah?”, Aku bergumam memanggil Ayah yang sedang membaca berita di ponselnya.

“Kenapa kak?”, tanya Ayah lembut.

“Ayah, dulu waktu kecil cita-cita Ayah apa?”, tanyaku pada Ayah.Ayah memberhentikan aktivitasnya dari ponsel, dan memalingkan wajahnya ke arahku dan mengusap rambutku pelan dengan kasih sayang. “Cita-cita Ayah cuma pengen jadi orang yang bermanfaat untuk orang banyak, kak. Itu aja cukup.“

“Bermanfaat?”, tanyaku penasaran.

Ayah mengangguk pelan. “Sekarang Ayah mau nanya sama kakak, cita-cita kakak apa?”

“Dokter, Yah.”

“Kenapa kakak mau jadi dokter?”, tanya Ayah lagi.

“Em, pake jas putih terus stetoskop digantung di leher itu keliatan keren Yah hehehe.”

“Cuma itu kak?”, Aku menggeleng mantap. Ya, tentu bukan itu saja alasanku kenapa aku ingin menjadi dokter. Tapi jujur, memakai jas putih itu terlihat sangat keren menurutku. Jas yang menjadi kebanggaan para calon dokter.

“Terus apalagi?”

Aku belum menjawab pertanyaan Ayah. Masih menimang kata-kata yang akan jawab untuk pertanyaan Ayah.

“Kalau misalnya kakak udah jadi dokter, nah ada pasien yang lagi bener-bener butuh bantuan kakak di rumah sakit, tapi kakak baru aja tutup praktek dan kakak udah siap-siap mau pulang apa yang akan kakak lakuin?”, belum saja aku menjawab pertanyaan Ayah tadi, Ayah sudah menanyakan lagi padaku yang masih berpikir.

“Yah, itu pasien tanggung jawab aku. Udah pasti dia aku tolongin.”

“Kalau dia ga punya uang untuk menebus perobatannya, gimana kak?”

Aku menghembuskan napasku pelan. “Ayah, bagi kakak dokter bukan cuma pake jas putih terus ada stetoskop yang dikalungi yang menjadi kebangaan. Sekolah dokter juga butuh waktu yang lama kan Yah? Percuma dong pendidikan dokternya tapi mau dibodohi sama uang. Masa pasien ga bisa bayar administrasi aja harus direpotin sih, Yah. Kesehatan mereka yang terpenting Yah, untuk kakak uang bukan patokan untuk bekerja Yah. Percuma dong jas putih yang kakak pakek, sia-sia rasanya.”

Ayah tersenyum padaku. “Kakak mau jadi dokter spesialis engga? Kan bayak uangnya tuh.”

“Ih Ayah, kan kakak udah bilang. Uang bukan patokan, kakak ga mau ambil spesialis ah. Orang lebih banyak membutuhkan dokter umum, apalagi orang yang ada di pedalaman yang jauh dari jangkauan, Yah. Kakak mau lebih bermanfaat untuk orang banyak Yah, seperti yang Ayah bilang tadi. Jadi jas putih yang Insha Allah kakak pakai nanti ga sia-sia.”


“Raihlah cita cita mu nak, jadilah APAPUN itu. Kalau mau jadi dokter, jadi pemimpin, pilot,, arsitek atau APAPUN itu, terserah kamu nak. Ayah akan selalu mendukungmu, Bunda akan selalu mendoakanmu. Tapi kak satu hal yang perlu kau Ingat, Ayah dan Bunda takkan bangga nak, meskipun kau jadi presiden atau penguasa dunia sekalipun. Kami akan bangga ketika kau menjadi "APAPUN" yang baik dan bermanfaat. Ketika kau jadi dokter, jadilah dokter yang baik.Jadi arsitek jadilah arsitek yang baik, jadi pilot jadilah pilot yang baik. Karena itu yang akan membuat kami bangga Nak. Bukan hanya berupa kau sukses meraih cita cita nak. Semua itu percuma kak, semua akan kau tinggalkan kak. Gelar doktermu tak mampu memperpanjang umurmu. Gelar Arsitek tak mampu membuat kuburan begitu megah. Gelar Pilot takkan mampu takkan mampu mengendalikan keranda mayat yang kelak akan kau kendarai. Kau harus ingat akan satu Gelar yang pasti didapat oleh setiap makhluk yaitu almarhum dan almarhuma. Gelar itu akan melekat ketika kau dianggap cukup menjalani ujian kehidupan. Gelar itu dipaksakan tak peduli kau mau atau tidak.Begitu juga kami. Kami takkan hidup selamanya, menjaga dan menasehatimu jika kau salah, karena suatu saat kami akan pergi nak.”


Aku terpaku.

Diam.

Selepas Ayah dengan panjang menasehatiku, kami diam. Ayah meluruskan pandangannya ke depan sambil meminum kopi yang ia diamkan dari tadi.

Mungkin sudah dingin.

Air mataku tak bisa ku tahankan agar tak jatuh. Dan beberapa detik kemudian pipiku sudah terasa akan adanya air yang jatuh. Ayah benar, bahwa jadi apa pun kita di dunia akan hilang pada akhirnya. Semua tidak apa-apanya jika kita hanya bergelar jabatan itu. Semua tak ada gunanya, jika gelar yang kita miliki itu sama sekali tak menghasilkan kebaikan dan manfaat untuk siapa pun.

Aku berhambur ke pelukan Ayah.

“Ayah”, lirihku.

“Kak, yang menyembuhkan pasien itu bukan kakak, tapi Allah. Tapi Allah memperantainya melalui kakak, kakak boleh bangga sama jas putih itu tapi jadikan jas putih itu kebanggaan yang sesungguhnya. Jaga amanah yang diberikan Allah untuk kakak, amanah sebagai perantara Allah dengan pasien yang membutuhkan kesembuhan, melalui jas putih yang akan kakak gunakan nantinya. Dan ingat niatkan semuanya karena Allah ya, Nak”, ucap Ayah sambil mencium keningku dan membalas pelukan ku.

Aku mengangguk mengerti.

Jas putih itu, akan menjadi perantara pengabdian untuk Allah Subhanahu wa ta’ala. Dan jas putih itu dititipkan Allah sebagai amanah. Jas putih yang menjadi selama ini menjadi kebanggaan orang banyak.


Jas putih dan stetoskop yang dikalungkan.

Komentar

  1. Kok kek kambing, bagus kali blog mu padddd. Keren ceritanya.

    BalasHapus
  2. Inspiratif, Great Job 👍
    Semoga tercapai yah 😇

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Laporan Praktikum Kimia Menentukan Perubahan Entalpi

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA MENENTUKAN PERUBAHAN ENTALPI REAKSI   OLEH             KELOMPOK                                    : II ANGGOTA                                       : 1.       ADI YULIANTTO                                                  ...

Menyesal

Bismillahirrahmanirrahim “ Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ” (QS. An Nisa’: 110)             Ba’da Maghrib. Malam Jum’at, 13 Jumadal Akhir 1441 Hijriah ... Suara salam dari sang imam masjid sudah menggema. Seketika riuh suara anak-anak pun ikut terdengar diikuti dengan suara langkah kaki mereka yang berlari menghambur keluar masjid. Seperti biasa, sebagian dari mereka ada yang langsung kembali pulang atau berlarian saling kejar dengan temannya di halaman masjid atau bahkan mereka bergegas pergi ke rumah guru ngaji untuk melaksanakan rutinitas mengaji mereka selepas maghrib. Melihat itu saja bisa membuatku tersenyum bahagia. Iya, bahagia rasanya ketika aku masih memiliki waktu untuk kembali ke kampung halaman pada masa liburan. Aku bisa melihat banyaknya aktivitas or...

Alarm di Meja Rias

Bismillahirrahmanirrahim “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan baginya jalan keluar (bagi semua urusannya). Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkannya (segala keperluan).” (QS. Ath-Thalaaq : 2-3) Kring kring kring ... Bunyi alarm sudah menggema di kamar tidurku. Seperti biasa, perlahan aku membuka mata dan mencoba mengumpulkan nyawa untuk bangkit dari kasur yang selalu membuatku nyaman. Kurang lebih membutuhkan waktu tiga menit untuk aku bangkit dari kasur. Mataku mulai menelisik ke arah jarum jam alarm yang ada di meja rias. Astaghfirullah. Aku tersentak kaget begitu melihat jarum jam yang ternyata tak sesuai dengan waktu yang ku atur di malam hari. Tok tok tok ... Suara ketukan pintu terdengar dari luar. Itu pasti Abang atau Ibuku yang hendak membanguniku. “Udah bangun ternyata. Kirain masih nyaman sama mimpinya”, pemilik ...