Matahari memberikan sinar terbaiknya hari ini. Tak menyengat di tubuh sama sekali. Jam istirahat sekolah baru terdengar beberapa menit yang lalu. Seperti biasa, aku sekarang duduk manis di bangku perpustakaan sekolah.
Membaca novel.
Hobiku memang. Dan sudah kebiasaanku yang tak bisa terlewatkan. Sengaja aku meluangkan waktu istirahatku hanya untuk membaca novel, karena aku tak memiliki waktu lagi selain istirahat sekolah. Jadi jangan heran jika melihatku semedi di perpustakaan saat isitrahat.
Biasanya aku duduk berdua bersama teman seperjuanganku yang menyukai dunia fiksi. Dan kami akan tenggelam bersama-sama dalam dunia imajinasi kami. Namun kali ini tidak. Entah kenapa ia lebih memilih ke kantin saat ini.
Alhasil, aku duduk menyendiri di bangku favoriteku.
Dan beberapa menit kemudian aku sudah tenggelam dengan cerita yang ada dalam novel yang baru kubeli kemarin.
Dan sudah setengah halaman tuntas ku baca.
Aku memang fanatik dengan novel. Namun bukan novel yang menceritakan keromantisan anak zaman sekarang yang ku suka. Justru aku anti dengan novel yang berbau dengan keromantisan. Aku menggemari novel yang memiliki amanat yang kuat dalam ceritanya. Seperti novel 'Negeri 5 Menara' karangan A Fuadi, novel 'Sepatu Dahlan' karangan Khrisna Pabichara, novel karangan Tere Liye, dan banyak lagi.
Bruuugh
Suara yang berhasil mengalihkan pandanganku dari novel.
Dan suara itu berasal dari teman seperjuanganku dalam dunia fiksi. Dia sudah duduk di bangku sebelahku. Namun kali ini ia terlihat berbeda. Wajahnya kali ini terlihat sangat murung.
Entahla aku tak tahu mengapa.
"Astaghfirullah. Pelan-pelan aja duduknya.", ucapku memberi peringatan.
Dia mendengus kesal.
Satu hal yang ku tau kali ini.
Dia sedang dalam keadaan badmood.
Namun yang membuatku bertanya, 'apa yang saat ini membuatnya badmood?'
"Lagi badmood?", tanyaku to the point tanpa basa-basi. Karena aku tak pandai berbasa-basi.
"Iya. Hati lagi dalam keadaan Fractura Hepatica", jawabnya dengan posisi menidurkan kepalanya di atas meja dengan tangannya sebagai bantal.
"Fractura Hepatica?", tanyaku bingung. Kali ini aku tak lagi berfokus pada novelku, biarlah. Saat ini yang harus aku lakukan adalah memastikan teman seperjuanganku ini baik baik saja. Lebih tepatnya sahabat.
"Hm."
"Itu apa?"
"Patah hati."
"Kamu patah hati?"
Dia mengganggukan kepalanya mantap.
"Astaghfirullah. Kenapa sih? Mr.Cold dalam novel kamu itu udah jadian sama Mrs.Annoying itu?", tanyaku padanya.
Aku baru ingat. Sahabatku yang satu ini adalah penggemar novel teen fiction yang menceritakan keromantisan remaja masa kini, sangat berkebalikan denganku. Tak jarang dia selalu mengoceh tentang Mr.Cold yang dia idam-idamkan sebagai karakter cowo dalam novelnya. Tak hayal ia selalu mencerocos bahwa ia patah hati jika ending dari novelnya si Mr.Cold jadian dengan perempuan lain.
Aneh.
"Ih bukan itu."
"Lah. Terus patah hati kenapa?"
"Mr.Cold dunia nyata aku udah jadian sama perempuan lain", jawabnya dengan wajah yang murung. Dia menelungkupkan wajahnya di atas meja.
"Cuma gara-gara itu?"
Dia mengangguk tanpa menegakkan wajahnya yang masih bertumpu di meja dengan tangan sebagai bantalnya.
Aku menghela napas. "Dunia fiksi itu ga selamanya harus sesuai dengan dunia nyata kamu", lirihku.
Dia tak menggubris.
"Jangan biarkan hati kamu terlalu rendah dan rapuh. Hati kamu diciptakan begitu kuat, jangan hanya karena laki-laki hati kamu begitu rendah nilainya dan memiliki kualitas yang rapuh'', sambungku memberikan sedikit penjelasan padanya.
Mendengar penjelasanku, dia menegakkan wajahnya. Miris wajahnya terlihat sangat frustasi.
"Aku suka Dia."
"Menyukai lawan jenis adalah hal yang wajar. Itu fitrah. Tapi jangan biarkan hatimu terlalu jatuh untuk manusia. Jangan Patah hati kepada manusia, itu bukan kata yang pantas untuk dinyatakan."
"Lalu aku harus bagaimana?"
"Pemilik hati kamu siapa?"
"Tuhan."
"Nah, itu kamu tau."
"Terus?"
"Hei, itu teguran dari Tuhan bahwa Dia lebih patah hati dari kamu karena kamu lebih mencintai makhlukNya dari pada Dia. Allah itu Maha Pencemburu. Karena dia cemburu maka dari itu dia juga mematahkan hatimu. Sakit kan?''
Dia mengangguk. "Percayalah. Allah lebih Fractura Hepatica saat kamu lebih berharap dan lebih mencintai makhlukNya."
"Apa yang harus aku lakukan?"
"Dekatkan Sang Penggerak Hati dan Sang Pembolak balik Hati."
"Heeem-"
"Tapi ingat jangan hanya karena ingin mendapatkan makhlukNya kamu mendekatiNya. Dekatlah dengan Allah untuk menjagakan hatimu dari segala penyakit hati. Contohnya Patah hati itu. Patah hati yang hadir karena makhlukNya, itu sebagai tanda bahwa tidak ada nama Allah di dalam hati kamu. Seperti kamu sekarang, seperti orang gila."
"Parah banget ya?"
Aku mengangguk mantap. "Dan yang terpenting, jagalah hati kamu agar tidak jatuh dari hawa nafsu yang sering dibawakan melalui perantara setan. Hati kamu berharga. Dan jaga pandangan kamu dari lawan jenis. Lebih baik mencintainya dalam diam dan do'a, dengan doa cintamu akan sampai tanpa meninggalkan rasa cintamu kepada Allah."
"Terima Kasih. Aku senang bisa kenal denganmu", ujarnya dengan wajah yang sudah tampak sumringah dan lebih baik dari tadi.
Aku membalas dengan senyuman.
"Kamu cocok jadi karakter dalam novel."
"Kamu cocok jadi karakter dalam novel."
"Mulai lagi."
Mantul skali bosquh
BalasHapus