Sebuah alunan musik klasik dari cafe yang sedang dikunjungi gadis itu begitu enak terdengar. Alunan gesekan biola yang entah dimainkan oleh siapa begitu indah terdengar di telinga gadis yang tertutupi oleh kerudung. Sangat indah. Alunannya membawa gadis itu sangat tenang. Hati yang tak hentinya berdecak kagum. Sungguh indah. Tak ada perasaan sesal terungkap dari gadis itu untuk datang ke cafe ini. Setidaknya hanya meminum secangkir kopi.
“Assalamu’alaikum. Udah lama?”, tanya seorang wanita yang berhasil menyadarkan gadis itu dari alunan musik cafe. Teman dari gadis berkerudung itu.
“Eh, Wa’alaikumsalam. Sekitar 10 menit yang lalu”, jawab gadis itu.
“Sudah pesan?”
Gadis itu mengangguk. “Aku sudah pesan ini”, gadis itu menunjuk ke cangkir kopi yang belum disentuhnya sama sekali yang berada di depannya saat itu.
“Just it?”
“Yah. Sudah lama tidak meminum kopi Indonesia.”
“Kangen Indonesia kamu kan? Makanya jangan doyan belajar ke luar negeri dong”, gumam wanita itu yang sudah menarik kursinya untuk duduk di depan gadis yang sudah menunggunya 10 menit yang lalu.
“Kamu pernah dengar syair Imam syafi’i ?”, tanya gadis itu dengan lembut.
Wanita yang dihadapnnya itu hanya menggeleng dan memasang wajah penasaran dan keingin tahuan yang tinggi. Telinganya pun mulai ia persiapkan dengan baik untuk mendengarkan penjelesan sahabatnya itu.
“Orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan hidup asing. Kau akan dapat pengganti dari orang-orang yang kau tinggalkan, berlelah-lelahlah manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang. Singa jika tak tinggalkan sarang, tak akan dapat mangsa. Merantau itu bukan berarti tak ada tujuan, dengan merantau kita akan mendapatkan sebuah prestasi yang tak akan pernah kita dapatkan jika kita terus mengurung diri.”
Gadis itu selalu membuatnya terpanah. Iri. Mungkin bisa dikatakan. Namun bukan berarti ia benci dengan gadis itu. Keiriannya justru membuatnya semakin sadar untuk menjadi lebih baik. Perkataan gadis itu entah mengapa selalu membuatnya terpukau. Merasa bahwa gadis yang berada di depannya ini adalah sebuah cahaya hidayah yang diberikan Allah olehnya.
“Kenapa?”, tanya gadis itu yang membuyarkan lamunannya.
“Entahlah kau selalu bisa membuatku terpanah dengan perkataanmu, nona manis”, goda wanita itu pada gadis yang sudah lama tak berjumpa dengannya.
“Kau selalu pandai menggodaku, nona cantik”, ujar gadis itu yang membalas godaan sahabatnya itu.
Mereka saling tertawa. Melepasnya dengan mudah saat mereka sudah berjumpa. Butuh waktu yang lama dan waktu yang sangat tepat jika mereka harus bertemu seperti ini. Sangat indah. Persahabatan yang terus terjalin meski jarak dan waktu yang memisahkan mereka. Namun tak tampak perubahan sifat mereka hanya saja mereka semakin dewasa.
“Masih suka aja sama kopi”, ucap wanita itu membuka pembicaraan mereka lagi setelah berhenti tertawa.
Gadis itu tersenyum dan sedikit menampakan deretan giginya yang rapi lebih tepatnya menahan tawa. “Masih enak. Jadi masih suka.”
“Kopi buatan cafe ini memang paling enak disini.”
"Ya. Sangat enak. Terasa sangat harum juga.”
Hening. Seketika tak ada lagi bahan pembicaraan mereka. Mereka saling menikmati makanan dan minuman yang berada di depan mereka.
“Kopi kan pahit. Kenapa kamu sangat suka sama kopi sih?”, tanya wanita itu memecah keheningan mereka.
“Dinikmati aja. Semua akan lebih baik dan lebih manis.”
“Kau selalu menjawab dengan jawaban yang sama kalau ku tanya begitu.”
“Kau juga selalu bertanya dengan pertanyaan yang sama.”
Tawa mereka pecah kembali ketika gadis itu lagi-lagi membalas ucapan sahabatnya itu. Itulah kebiasaan mereka. Tak mau saling kalah dengan tanggapan-tanggapan mereka. Namun hal itu terciptanya kebahagiaan yang tak akan mereka dapat jika mereka tak bersama.
“Kaya hidup kamu selalu pahit dengan masa lalu yang menyelimuti”, canda wanita itu dibalas dengan tawanya.
“Hidup yang pahit harus dinikmati aja dan dijalani dengan kehendak kita. Kalau porsi gula yang kita masuki ga membuat kopi itu manis, berarti kita yang harus pandai untuk membuatnya terasa manis. Karena itu salah kita sendiri. Nah,kalau hidup kita terasa pahit apa yang salah? Porsi kesyukuran kita yang ga sesuai dengan takaran kita kan? Itu kesalahan kita. Cobalah untuk mensyukuri apa yang diberikan oleh Allah. Seperti menikmati ‘Secangkir Kopi’ ini”, ucap gadis gadis itu penjang lebar sambil menunjuk kopi yang berada di depannya itu.
“Kau selalu ada cara dan quote yang selalu membuatku sadar untuk menjadi lebih baik. Jazakillah khairan katsiran, ya habibi.”
“Wa anti fazakillah khairan katsiran, ya habibi.’
“Assalamu’alaikum. Udah lama?”, tanya seorang wanita yang berhasil menyadarkan gadis itu dari alunan musik cafe. Teman dari gadis berkerudung itu.
“Eh, Wa’alaikumsalam. Sekitar 10 menit yang lalu”, jawab gadis itu.
“Sudah pesan?”
Gadis itu mengangguk. “Aku sudah pesan ini”, gadis itu menunjuk ke cangkir kopi yang belum disentuhnya sama sekali yang berada di depannya saat itu.
“Just it?”
“Yah. Sudah lama tidak meminum kopi Indonesia.”
“Kangen Indonesia kamu kan? Makanya jangan doyan belajar ke luar negeri dong”, gumam wanita itu yang sudah menarik kursinya untuk duduk di depan gadis yang sudah menunggunya 10 menit yang lalu.
“Kamu pernah dengar syair Imam syafi’i ?”, tanya gadis itu dengan lembut.
Wanita yang dihadapnnya itu hanya menggeleng dan memasang wajah penasaran dan keingin tahuan yang tinggi. Telinganya pun mulai ia persiapkan dengan baik untuk mendengarkan penjelesan sahabatnya itu.
“Orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan hidup asing. Kau akan dapat pengganti dari orang-orang yang kau tinggalkan, berlelah-lelahlah manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang. Singa jika tak tinggalkan sarang, tak akan dapat mangsa. Merantau itu bukan berarti tak ada tujuan, dengan merantau kita akan mendapatkan sebuah prestasi yang tak akan pernah kita dapatkan jika kita terus mengurung diri.”
Gadis itu selalu membuatnya terpanah. Iri. Mungkin bisa dikatakan. Namun bukan berarti ia benci dengan gadis itu. Keiriannya justru membuatnya semakin sadar untuk menjadi lebih baik. Perkataan gadis itu entah mengapa selalu membuatnya terpukau. Merasa bahwa gadis yang berada di depannya ini adalah sebuah cahaya hidayah yang diberikan Allah olehnya.
“Kenapa?”, tanya gadis itu yang membuyarkan lamunannya.
“Entahlah kau selalu bisa membuatku terpanah dengan perkataanmu, nona manis”, goda wanita itu pada gadis yang sudah lama tak berjumpa dengannya.
“Kau selalu pandai menggodaku, nona cantik”, ujar gadis itu yang membalas godaan sahabatnya itu.
Mereka saling tertawa. Melepasnya dengan mudah saat mereka sudah berjumpa. Butuh waktu yang lama dan waktu yang sangat tepat jika mereka harus bertemu seperti ini. Sangat indah. Persahabatan yang terus terjalin meski jarak dan waktu yang memisahkan mereka. Namun tak tampak perubahan sifat mereka hanya saja mereka semakin dewasa.
“Masih suka aja sama kopi”, ucap wanita itu membuka pembicaraan mereka lagi setelah berhenti tertawa.
Gadis itu tersenyum dan sedikit menampakan deretan giginya yang rapi lebih tepatnya menahan tawa. “Masih enak. Jadi masih suka.”
“Kopi buatan cafe ini memang paling enak disini.”
"Ya. Sangat enak. Terasa sangat harum juga.”
Hening. Seketika tak ada lagi bahan pembicaraan mereka. Mereka saling menikmati makanan dan minuman yang berada di depan mereka.
“Kopi kan pahit. Kenapa kamu sangat suka sama kopi sih?”, tanya wanita itu memecah keheningan mereka.
“Dinikmati aja. Semua akan lebih baik dan lebih manis.”
“Kau selalu menjawab dengan jawaban yang sama kalau ku tanya begitu.”
“Kau juga selalu bertanya dengan pertanyaan yang sama.”
Tawa mereka pecah kembali ketika gadis itu lagi-lagi membalas ucapan sahabatnya itu. Itulah kebiasaan mereka. Tak mau saling kalah dengan tanggapan-tanggapan mereka. Namun hal itu terciptanya kebahagiaan yang tak akan mereka dapat jika mereka tak bersama.
“Kaya hidup kamu selalu pahit dengan masa lalu yang menyelimuti”, canda wanita itu dibalas dengan tawanya.
“Hidup yang pahit harus dinikmati aja dan dijalani dengan kehendak kita. Kalau porsi gula yang kita masuki ga membuat kopi itu manis, berarti kita yang harus pandai untuk membuatnya terasa manis. Karena itu salah kita sendiri. Nah,kalau hidup kita terasa pahit apa yang salah? Porsi kesyukuran kita yang ga sesuai dengan takaran kita kan? Itu kesalahan kita. Cobalah untuk mensyukuri apa yang diberikan oleh Allah. Seperti menikmati ‘Secangkir Kopi’ ini”, ucap gadis gadis itu penjang lebar sambil menunjuk kopi yang berada di depannya itu.
“Kau selalu ada cara dan quote yang selalu membuatku sadar untuk menjadi lebih baik. Jazakillah khairan katsiran, ya habibi.”
“Wa anti fazakillah khairan katsiran, ya habibi.’
gileeee bener
BalasHapus