Bunyi bel istirahat sudah terdengar ditelinga manusia seantereo sekolah. Itu artinya bel kebebasan telah berbunyi. Sangat lazim jika para siswa siswi langsung berhamburan keluar kelas. Dan memenuhi kantin untuk menggerogoti isi dari kantin. Layaknya zombie. Namun tidak denganku yang saat itu malas untuk pergi.
"Hei, aku boleh pinjam uang kamu lagi?", tanya seorang lelaki yang mendatangi bangku ku. Sudah ketiga kalinya ia mendatangiku hanya untuk meminjam uang.
"Kau sudah meminjam uangnya sejak dua hari yang lalu dan sampai sekarang belum kau kembali kan. Mau meminjam lagi ha?", ujar seorang wanita yang tiba-tiba datang ke bangku ku dan memarahi laki-laki itu dengan suara yang keras dan tegas. Dia sahabatku.
"Apa urusanmu? Dia saja tak masalah. Kenapa kau yang marah?", tanya laki-laki itu santai.
"Ini. Ambil saja. Kali ini jangan anggap ini hutang. Untukmu saja ku berikan", aku menyodorkan uang kepada laki-laki itu. Aku tak tahu apa alasan laki-laki itu selalu meminjam uangku. Namun hal yang pasti saat ini ku tau ia tak memiliki uang lagi karena sudah tanggal tua. Maklum saja karena kami anak asrama yang harus pintar mengelola uang kiriman orang tua kami.
"Kau terlalu baik padanya. Dia saja belum tentu baik padamu", ucap sahabatku sambil menggeser bangkunya mendekatiku.
Aku diam tak bergeming. Hanya tersenyum padanya yang masih kesal dengan kedatangan laki-laki itu tadi.
"Dia tak akan membayar hutangnya itu padamu. Kau ini dimanfaatkannya. Kau tidak sadar?", tanya sahabatku itu yang kali ini dengan suara yang membesar.
Aku menghela nafasku berat lalu tersenyum padanya. "Aku ikhlas", jawabku sigkat.
"Aku tau itu. Tapi kau akan selalu dimanfaatkannya begini", ucapnya yang masih membela ku.
"Dia membutuhkan uang itu."
"Kau tak membutuhkan uang itu memangnya ha? Aku, kamu dan dia sama sama anak asrama yang uang jajannya sebatas kiriman dari orang tua. Aku tau jika tanggal segini tanggal tua, tapi apakah dia tak bisa mengelola uangnya itu? Kau saja harus mengelola uangmu sampai akhir bulan agar cukup. Sementara dia seenaknya meminta uang padamu seperti dia meminta pada orang tuanya", kali ini sahabatku benar-benar marah dan sangat emosi. Aku memahami sifat sahabatku ini.
Aku masih diam dan tak bergeming. Menunggu ia habis mengeluarkan semua keluh kesahnya yang terpendam di hatinya saat ini. Lebih baik memang. Setelah itu aku mencoba memberinya pemahaman.
"Aku tak habis pikir denganmu. Hatimu terlalu baik pada semua orang. Sehingga kau selalu dimanfaatkan seperti ini", sambungnya dengan nada yang sedikit lebih tenang dari tadi.
"Kau bahkan tidak pernah tahu untuk apa uangmu itu dipakai olehnya. Semoga saja dipakai untuk kebaikan, jika tidak? Apakah kau tak menyesal memberinya uang? Apakah kau tidak ikut berdosa?"
"Sudah siap berburuk sangkanya?", tanyaku disertai dengan senyuman terbaikku untuk menenangkannya.
Ia menghela nafasnya panjang. Ia tak menjawab. Masih diam dan berkecambuk dengan pikirannya.
"Ga baik su'udzon gitu. Berbuat baik itu ga salah kan? Ga ada larangan kan?", tanyaku lagi padanya.
Dia masih diam. Tak menjawab. "Kebaikan menuntut kita untuk bersabar dan ikhlas. Jangan pernah mengharapkan kebaikan kita akan di balas dengan kadar yang sama."
"Tapi ..." , dia membalas namun aku segera menghela.
"Tapi apa? Kamu takut ga dibalas kebaikan kita dengan kadar yang sama? Kamu takut dia tidak akan sebaik kita ketika kita butuh dia. Kamu takut jika kamu dimanfaati dengan kebaikan kamu?"
Dia diam kembali. Menerawang ke depan dan berkecambuk lagi dengan pikirannya.
"Jika semua ketakutan itu ada dalam diri kamu. Coba kamu tepis pelan-pelan. Bahwa kebaikan yang kamu lakukan semata mata bukan untuk mendapat balasan yang setimpal dari manusia. Tapi mendapat balasan kebaikan pula dari Allah. Kebaikan surga," ujarku sambil merangkul bahunya dan tersenyum padanya.
"Kalau kamu merasa dimanfaati itu justru bagus bukan? Itu akan jadi ladang kebaikan dan pahala untuk kamu. Kamu bayangin aja seberapa besar Tuhan akan membalas kebaikanmu? Tapi dengan catatan jika kamu ikhlas melakukannya itu."
"Terima kasih. Aku paham sekarang. Kau selalu mengajaiku bagaimana cara berbuat baik dengan ikhlas. Sekarang hatiku lebih tenang."
"Satu lagi."
"Apa?", tanyanya heran. Ia menautkan satu alisnya ke atas
"Jangan suka su'udzon sama orang. Khusnudzon aja. Itu akan buat kamu lebih tenang."
"Siap bu Ustadzah ku", dia memberikan penghormatan kepadaku lalu memelukku dalam dekapnnya.
Kebaikan bukan suatu kesalahan. Dan tak akan pernah ternilah salah jika kita melihat disisi baliknya. Penyesalan dan kekecewaan yang terbalaskan dari kebaikan selama ini membuktikan bahwa hati kita tidak melakukan kebaikan semata semata karena ingin mendapt ridhaNya. Melainkan ingin mendapat balasan dan pujian dari manusia.
"Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan pula."
(Q.S. Ar-Rahmaan : 60)
"Hei, aku boleh pinjam uang kamu lagi?", tanya seorang lelaki yang mendatangi bangku ku. Sudah ketiga kalinya ia mendatangiku hanya untuk meminjam uang.
"Kau sudah meminjam uangnya sejak dua hari yang lalu dan sampai sekarang belum kau kembali kan. Mau meminjam lagi ha?", ujar seorang wanita yang tiba-tiba datang ke bangku ku dan memarahi laki-laki itu dengan suara yang keras dan tegas. Dia sahabatku.
"Apa urusanmu? Dia saja tak masalah. Kenapa kau yang marah?", tanya laki-laki itu santai.
"Ini. Ambil saja. Kali ini jangan anggap ini hutang. Untukmu saja ku berikan", aku menyodorkan uang kepada laki-laki itu. Aku tak tahu apa alasan laki-laki itu selalu meminjam uangku. Namun hal yang pasti saat ini ku tau ia tak memiliki uang lagi karena sudah tanggal tua. Maklum saja karena kami anak asrama yang harus pintar mengelola uang kiriman orang tua kami.
"Kau terlalu baik padanya. Dia saja belum tentu baik padamu", ucap sahabatku sambil menggeser bangkunya mendekatiku.
Aku diam tak bergeming. Hanya tersenyum padanya yang masih kesal dengan kedatangan laki-laki itu tadi.
"Dia tak akan membayar hutangnya itu padamu. Kau ini dimanfaatkannya. Kau tidak sadar?", tanya sahabatku itu yang kali ini dengan suara yang membesar.
Aku menghela nafasku berat lalu tersenyum padanya. "Aku ikhlas", jawabku sigkat.
"Aku tau itu. Tapi kau akan selalu dimanfaatkannya begini", ucapnya yang masih membela ku.
"Dia membutuhkan uang itu."
"Kau tak membutuhkan uang itu memangnya ha? Aku, kamu dan dia sama sama anak asrama yang uang jajannya sebatas kiriman dari orang tua. Aku tau jika tanggal segini tanggal tua, tapi apakah dia tak bisa mengelola uangnya itu? Kau saja harus mengelola uangmu sampai akhir bulan agar cukup. Sementara dia seenaknya meminta uang padamu seperti dia meminta pada orang tuanya", kali ini sahabatku benar-benar marah dan sangat emosi. Aku memahami sifat sahabatku ini.
Aku masih diam dan tak bergeming. Menunggu ia habis mengeluarkan semua keluh kesahnya yang terpendam di hatinya saat ini. Lebih baik memang. Setelah itu aku mencoba memberinya pemahaman.
"Aku tak habis pikir denganmu. Hatimu terlalu baik pada semua orang. Sehingga kau selalu dimanfaatkan seperti ini", sambungnya dengan nada yang sedikit lebih tenang dari tadi.
"Kau bahkan tidak pernah tahu untuk apa uangmu itu dipakai olehnya. Semoga saja dipakai untuk kebaikan, jika tidak? Apakah kau tak menyesal memberinya uang? Apakah kau tidak ikut berdosa?"
"Sudah siap berburuk sangkanya?", tanyaku disertai dengan senyuman terbaikku untuk menenangkannya.
Ia menghela nafasnya panjang. Ia tak menjawab. Masih diam dan berkecambuk dengan pikirannya.
"Ga baik su'udzon gitu. Berbuat baik itu ga salah kan? Ga ada larangan kan?", tanyaku lagi padanya.
Dia masih diam. Tak menjawab. "Kebaikan menuntut kita untuk bersabar dan ikhlas. Jangan pernah mengharapkan kebaikan kita akan di balas dengan kadar yang sama."
"Tapi ..." , dia membalas namun aku segera menghela.
"Tapi apa? Kamu takut ga dibalas kebaikan kita dengan kadar yang sama? Kamu takut dia tidak akan sebaik kita ketika kita butuh dia. Kamu takut jika kamu dimanfaati dengan kebaikan kamu?"
Dia diam kembali. Menerawang ke depan dan berkecambuk lagi dengan pikirannya.
"Jika semua ketakutan itu ada dalam diri kamu. Coba kamu tepis pelan-pelan. Bahwa kebaikan yang kamu lakukan semata mata bukan untuk mendapat balasan yang setimpal dari manusia. Tapi mendapat balasan kebaikan pula dari Allah. Kebaikan surga," ujarku sambil merangkul bahunya dan tersenyum padanya.
"Kalau kamu merasa dimanfaati itu justru bagus bukan? Itu akan jadi ladang kebaikan dan pahala untuk kamu. Kamu bayangin aja seberapa besar Tuhan akan membalas kebaikanmu? Tapi dengan catatan jika kamu ikhlas melakukannya itu."
"Terima kasih. Aku paham sekarang. Kau selalu mengajaiku bagaimana cara berbuat baik dengan ikhlas. Sekarang hatiku lebih tenang."
"Satu lagi."
"Apa?", tanyanya heran. Ia menautkan satu alisnya ke atas
"Jangan suka su'udzon sama orang. Khusnudzon aja. Itu akan buat kamu lebih tenang."
"Siap bu Ustadzah ku", dia memberikan penghormatan kepadaku lalu memelukku dalam dekapnnya.
Kebaikan bukan suatu kesalahan. Dan tak akan pernah ternilah salah jika kita melihat disisi baliknya. Penyesalan dan kekecewaan yang terbalaskan dari kebaikan selama ini membuktikan bahwa hati kita tidak melakukan kebaikan semata semata karena ingin mendapt ridhaNya. Melainkan ingin mendapat balasan dan pujian dari manusia.
"Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan pula."
(Q.S. Ar-Rahmaan : 60)
Komentar
Posting Komentar