Langsung ke konten utama

Hujan

Hawa pagi terasa sangat dingin ditubuhku saat itu. Rintikan hujan semakin deras membasahi bumi. Tetesan bening terus berkejaran untuk menjatuhkan dirinya ke bumi. Terlihat sangat seru. Aku yang sejak tadi tak henti-hentinya memperhatikan air yang jatuh dari jendela ruang keluarga. Memandangi tak henti. “Masih pagi jangan melamun ga jelas gitu, kesambet entar”, gumam seorang pria yang dua tahun lebih tua dariku. Pandanganku beralih kepada pria itu yang tiba-tiba datang.

“Ga melamun kok Kak”, jawab ku padanya.

Dia duduk disampingku tanpa ku suruh. Kali ini pandangannya menuju luar rumah. Memandangi apa yang ku pandang sebelumnya. Hening. Ia diam tanpa berbicara lagi. Masih memandangi luar jendela. Aku mencoba mengikuti arah matanya, namun entah apa yang ia pandang di luar sana.

Terasa sangat menarik baginya.

“Lihat apa kak? Sampai ga inget dunia gitu?”, tanyaku memecah keheningan dengan sedikit tawa kecil.

“Lihatin cewe cantik”, guraunya yang sangat garing bagiku.

“Krik banget lawakannya. Ga ada lucunya.”

“Yang bilang kakak mau ngelucu siapa? Hahaha”, ujarnya dengan seteguk tawa.

“Ya aku nanya nya serius, dijawabnya ga bener gitu”, gumamku padanya.

“Kan di luar cuma ada hujan berarti kakak lagi lihati hujan”, jawabnya polos.

“Ngelihati hujan sampai gitunya.”

Ia diam kembali. Tak menggubris ucapanku yang terakhir. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini. Aku pun tak tahu apa yang akan ku katakan lagi. Kami sama-sama memandangi hujan yang turun diluar rumah sana. sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Hujan itu keren ya kak”, tukasku yang memecah keheningan yang kami ciptakan beberapa menit lalu.

“Keren gimana?”, tanyanya dengan heran.

“Yang ada buat orang jadi betah di rumah. Ga bisa kemana-mana, mau main futsal juga ga bisa”, jawabnya dengan raut muka yang sedih.

“Itu mah kakak yang ga mensyukuri karunia dari Allah.”

“Bukan ga mensyukuri. Aku juga suka dengan hujan. Hujan itu anugerah yang sangat indah, menciptakan kedamaian hati. Membuat keindahan dengan mengukir pelangi setelah itu”, gumamnya dengan wajah yang tersenyum.

“Tapi tadi ..”

“Ada tapinya, kalau deras gini, semua orang jadi betah dirumah. Ga bisa kemana-mana. Dan was-was kalau terjadi banjir. Kalau deras gini juga kadang nimbuli ketakutan dengan datangnya petir”, potongnya saat aku ingin berbicara.

Aku berpikir sejenak. Apa yang dikatakannya ada benarnya. Saat hujan turun terkadang menimbulkan kesedihan dan kebahagian bagi makhluk hidup. Namun bagiku hujan sangat terasa indah. Aku tak pernah berpikir buruk mengenai hujan, seperti yang dikatakan kakak tadi.

“Yang ada kak, manusia itu ga pernah besyukur. Segala ciptaanNya sudah diatur begitu sempurna dan rapi. Semua hal yang baik jika digunakan terlalu berlebihan juga bisa berdampak buruk kak. Sama seperti hujan. Dia sangat indah jika dia turun sesuai dengan keinginan kita, tapi akan terlihat buruk jika tak sesuai dengan kenginan kita. Semua itu tergantung bagaimana kita bisa menerima sesuatu itu dengan rasa syukur.”

Dia terdiam.

Aku melihat wajahnya. Ia tersenyum padaku dan kembali memandang ke arah luar jendela.

“Ya. Aku setuju denganmu. Kau benar sekali”, ujarnya padaku. Aku mengangguk.

“Lalu tadi, kenapa kau katakan hujan itu keren?”, tanya kembali.

“Ya keren aja kak. Mereka udah jatuh berkali-kali, terus jatuh dan jatuh namun mereka tetap kembali. Bahkan mereka saling kejar untuk jatuh. Padahal jatuh itu sakit kan kak? Tapi mereka ga pernah ngeluh karena mereka tau bahwa Allah menciptakan mereka untuk membawa kedamaian hati dan anugerah untuk setiap makhluk.”

“Di saat hujan juga kan kak do’a kita akan di ijabah? Kurang keren apa coba kak? Dibalik sebuah rintikan yang terlihat seperti tak berkesan tapi begitu banyak rahmat dan rezeki Allah yang turun melalui hujan.”

Dia mengembangkan bibirnya.

Tersenyum.

Raut wajahnya berubah menjadi lebih tampan.

“Kamu benar. Subhanallah walhamdulillah walaa ilaha illallahu Allahu akbar”, gumamnya dengan tambahan zikir.

“Ademnya dengar cowo zikir”, godaku padanya.

“Jadi lebih ganteng kan?”, tanyanya dengan kepedean tingkat tinggi.

“Iyain aja deh biar cepat.”

Kami tenggelam dalam tawa.

Memandangi hujan yang mulai mengurangi debit airnya. Hari juga mulai lebih cerah. Tinggal rintikan hujan yang tersisah. Embun mulai menghiasi setiap barisan jendela.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Laporan Praktikum Kimia Menentukan Perubahan Entalpi

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA MENENTUKAN PERUBAHAN ENTALPI REAKSI   OLEH             KELOMPOK                                    : II ANGGOTA                                       : 1.       ADI YULIANTTO                                                  ...

Alarm di Meja Rias

Bismillahirrahmanirrahim “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan baginya jalan keluar (bagi semua urusannya). Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkannya (segala keperluan).” (QS. Ath-Thalaaq : 2-3) Kring kring kring ... Bunyi alarm sudah menggema di kamar tidurku. Seperti biasa, perlahan aku membuka mata dan mencoba mengumpulkan nyawa untuk bangkit dari kasur yang selalu membuatku nyaman. Kurang lebih membutuhkan waktu tiga menit untuk aku bangkit dari kasur. Mataku mulai menelisik ke arah jarum jam alarm yang ada di meja rias. Astaghfirullah. Aku tersentak kaget begitu melihat jarum jam yang ternyata tak sesuai dengan waktu yang ku atur di malam hari. Tok tok tok ... Suara ketukan pintu terdengar dari luar. Itu pasti Abang atau Ibuku yang hendak membanguniku. “Udah bangun ternyata. Kirain masih nyaman sama mimpinya”, pemilik ...

Gugurnya Sang Panji Uhud

Bismillah Matahari bersinar terlalu terik kala itu. Seperti biasa. Mekah memang seperti itu. Seorang pemuda tampan berjalan menyusuri Kota Mekah. Seantero Mekah juga tahu siapa pemuda yang tengah berjalan itu, ditambah lagi dengan ciri khas aroma parfum yang digunakannya. Parfum dari negeri Yaman, parfum mewah dan mahal yang tidak sembarangan orang memakainya. Dia pemuda yang banyak gadis memujanya, bukan hanya karena ketampanannya, tapi juga karena kecerdasan dan kecemerlangannya. Pemuda yang terlahir dari keluarga kaya dan penuh kemewahan. Tak pernah satupun keinginannya di tolak oleh kedua orang tuanya. Dia adalah Ibnu Umair, atau dikenal dengan lengkap sebagai Mush’ab bin Umair. Langkah kakinya terus menyusuri Kota Mekah hingga ia tiba di Bukit Shafa, di rumah al-Arqam bin Abi al-Arqam. Darul Arqam, begitulah kaum muslimin mengatakannya. Ia kesini bukan tanpa tujuan. Hari-harinya selalu diliputi tanda tanya mengenai sosok Muhammad yang selalu saja diperbincangkan oleh orang-orang...