Aku berjalan menyusuri trotoar kota, bersih dan rapi. Pengguna jalan pun akan merasa sangat nyaman dengan kerapian kota ini. Aku menuju taman kota untuk merasakan sejuknya hawa dan melihat manusia yang sibuk berlalu lalang melintasi kota. Dengan sedikit cemilan dan buku yang sudah ada di tangan, aku pun mencari bangku yang nyaman untuk membaca. Di tengah taman aku melihat sosok yang familiar ku lihat. Ah, ternyata dia teman kampusku. Aku pun menuju kesana untuk duduk bersamanya.
“Sendirian saja, boleh aku duduk disini?”, tanyaku padanya yang sedang berlamun menerawang kota. Dia tak menggubris. Mungkin ia masih melamun dan pikirannya masih melayang. Aku mencoba sedikit mengejutkannya.
Dan yap, di terkejut dan terbangun dari lamunan yang melanda dirinya.
“Kau ini membuatku terkejut, panggil saja aku, aku akan dengar”, ucapnya padaku. Aku menghela dan menggelengkan kepala,
“Aku sudah memanggilmu dari tadi tapi kau lebih sibuk dengan lamunanmu”, jawabku dan lansung duduk disebelahnya.
“Iya kah?”, tanya heran sambil memandang ke arahku. Aku hanya tertawa kecil melihat tingkahnya itu.
“Ada yang kau pikirkan? Tampaknya kau sangat serius memikirkannya”,sambungku. Ia hanya berdehem dan menyedot minuman yang ada di tangannya.
Aku tersenyum.
“Kenapa kau senyum?”, tanyanya yang melihatku tersenyum.
“Tidak ada, hanya ingin senyum saja padamu”, jawabku enteng.
Diam. Dia sibuk dengan lamunannya.
Aku yakin, dia pasti sedang memikirkan sesuatu yang mengganjal dipikiran dan hatinya. Dia tipe orang penanya dan ingin tahu, jadi sudah ku pastikan dia akan bertanya jika sudah melamun seperti ini.
Itulah kebiasaannya,
Namun, Aku mencoba membiarkannya sampai ia akan membuka mulutnya dan bertanya padaku. Sambil menunggu pertanyaan yang mungkin akan ditanyakannya, aku pun membuka buku yang sudah ada di tanganku sejak tadi yang siap untuk ku baca.
Dia pun menoleh ke arahku dan membuka lagi pembicaraan kami,
“Buku apa?”, tanyanya penasaran.
“Buku kisah Nabiku”, jawabaku singkat.
“Nabi Muhammad itu?” Aku mengangguk.
“Aku boleh bertanya?”, sambungnya lagi. Dan ya, aku tepat sasaran.
Dia bertanya.
“Tanyakan saja”, jawabku. Ia diam sejenak, dan menerawang ke depan. Aku tetap menunggu apa yang akan ditanyakannya kali ini.
“Kau bahagia dengan agama mu?”, ucapnya padaku. Aku tersentak dan sedikit terkejut dengan pertanyaannya. Belum sempat aku menjawab dia kembali bertanya, “Kau tak terganggu dengan segala aturan dari Tuhanmu itu? Dan kau tak merasa keberatan dengan semuanya?”
Dia memang sering bertanya mengenai agamaku, islam. Meskipun dia atheis, namun dia begitu kepo dengan agama, terutama dengan Islam. Namun pertanyaannya kali ini membuatku kaget, aku pun mencoba menjawab dengan baik.
“Tidak, aku sama sekali tidak terganggu apalagi keberatan. Semua ku lakukan dengan ikhlas, dan itu memang kewajibanku bukan?”, jawabku.
“Bagaimana kau tahu adanya Tuhan? Sementara kau sendiri tidak pernah bertemu dengannya dan mengapa di semua agama selalu memiliki aturan dari Tuhannya? Namun aturan semua agama itu berbeda?”, tanyanya kembali.
“Bukankah lebih baik jika dunia ini tanpa agama? Terkadang aturan dari Tuhan setiap agama itu membuat seseorang atau kelompok menjadi terpecah belah karena perbedaan. Jika tak ada agama maka tak ada aturan yang harus kau lakukan sehingga tak membuatmu terpecah dengan kelompok lain”, sambungnya dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.
Aku menghela napas, “Aku menyembah Tuhan bukan karena nenek moyangku atau karena tradisi, tapi aku percaya dan aku punya iman bahwa aku terlahir di dunia bukan karena kebetulan ataupun pemikiran logika yang sering orang katakan. Tak ada suatu kebetulan yang besar di dunia ini, jika tak ada yang mengendalikan dunia ini, bagaimana jadinya dunia ini? Ibaratkan pesawat, jika tak ada pilot bagaimana kau akan sampai ke tempat tujuanmu? Mesin yang canggih di dalam pesawat itupun tak akan pernah bisa membawamu pergi tanpa ada yang mengemudi. Sama sepeti dunia, sehebat apa pun dunia ini jika tak ada yang mengendalikan dunia akan hancur. Pertanyaannya siapa yang mengendalikannya?
“Bukan agama yang memecah belahkan orang atau kelompok tapi sifat egois dan nafsu manusia itu sendiri yang membuat mereka terpecah dan mereka mengatasnamakan agama. Apakah kau tak pernah berpikir, jika di dunia ini tanpa aturan dari Tuhan bagaimana kau hidup? Sederhana saja, kau bernafas bukankah itu aturan dari Tuhan? Bukankah itu kewajibanmu untuk bernafas? Satu lagi, makan dan minum. Bukankah itu aturan dari Tuhan bahwa kau harus makan dan minum di dunia jika tidak, apa yang terjadi denganmu? Makan dan minum sudah menjadi kewajibanmu sejak kecil, nah sekarang kewajiban dan aturan yang kecil sudah kau penuhi dan kau lakukan dengan baik, Tuhan sudah memberinya semua, ia hanya meminta padamu untuk mengerjakan aturan sedikit lebih besar dari semua itu, yaitu mempercayainya dengan menyembahnya, kau tidak bisa? Hanya itu?”, sudah ku pastikan jawabanku kali ini akan panjang lebar. Aku yakin dia paham dengan semua paparan jawabanku.
Semoga saja.
“Tanpa kau sadari, kau selalu melakukan aturan aturan dari Tuhanmu sekecill apapun namun hatimu tidak pernah tergerak untuk mempercayainya karena kau terlalu pintar dengan pengetahuan yang ada di otakmu sehingga kau hanya terbelenggu dengan pikiran pikiran logikamu saja. Jangan pernah katakan bahwa dunia akan lebih baik tanpa agama. Logika mu tak akan cukup untuk memperbaiki dunia yang hancur dan rusak jika tanpa agama”, sambungku lagi padanya dan dengan tambahan senyum, yang katanya dia menyukainya.
“Aku akan mencoba mengenal siapa yang menciptakan semua isi semesta ini, aku akan membuktikannya apakah hidupku akan lebih baik jika aku mempercayaiNya atau sebaliknya. Kau mau membantuku?”
Aku diam dan tersenyum kepadanya.
"Alhamdulillah", lirihku.
Bahagia?
Tentu.
"Yakinkan hatimu. Aku pasti akan membantumu", jawabku meyakinkannya.
“Sendirian saja, boleh aku duduk disini?”, tanyaku padanya yang sedang berlamun menerawang kota. Dia tak menggubris. Mungkin ia masih melamun dan pikirannya masih melayang. Aku mencoba sedikit mengejutkannya.
Dan yap, di terkejut dan terbangun dari lamunan yang melanda dirinya.
“Kau ini membuatku terkejut, panggil saja aku, aku akan dengar”, ucapnya padaku. Aku menghela dan menggelengkan kepala,
“Aku sudah memanggilmu dari tadi tapi kau lebih sibuk dengan lamunanmu”, jawabku dan lansung duduk disebelahnya.
“Iya kah?”, tanya heran sambil memandang ke arahku. Aku hanya tertawa kecil melihat tingkahnya itu.
“Ada yang kau pikirkan? Tampaknya kau sangat serius memikirkannya”,sambungku. Ia hanya berdehem dan menyedot minuman yang ada di tangannya.
Aku tersenyum.
“Kenapa kau senyum?”, tanyanya yang melihatku tersenyum.
“Tidak ada, hanya ingin senyum saja padamu”, jawabku enteng.
Diam. Dia sibuk dengan lamunannya.
Aku yakin, dia pasti sedang memikirkan sesuatu yang mengganjal dipikiran dan hatinya. Dia tipe orang penanya dan ingin tahu, jadi sudah ku pastikan dia akan bertanya jika sudah melamun seperti ini.
Itulah kebiasaannya,
Namun, Aku mencoba membiarkannya sampai ia akan membuka mulutnya dan bertanya padaku. Sambil menunggu pertanyaan yang mungkin akan ditanyakannya, aku pun membuka buku yang sudah ada di tanganku sejak tadi yang siap untuk ku baca.
Dia pun menoleh ke arahku dan membuka lagi pembicaraan kami,
“Buku apa?”, tanyanya penasaran.
“Buku kisah Nabiku”, jawabaku singkat.
“Nabi Muhammad itu?” Aku mengangguk.
“Aku boleh bertanya?”, sambungnya lagi. Dan ya, aku tepat sasaran.
Dia bertanya.
“Tanyakan saja”, jawabku. Ia diam sejenak, dan menerawang ke depan. Aku tetap menunggu apa yang akan ditanyakannya kali ini.
“Kau bahagia dengan agama mu?”, ucapnya padaku. Aku tersentak dan sedikit terkejut dengan pertanyaannya. Belum sempat aku menjawab dia kembali bertanya, “Kau tak terganggu dengan segala aturan dari Tuhanmu itu? Dan kau tak merasa keberatan dengan semuanya?”
Dia memang sering bertanya mengenai agamaku, islam. Meskipun dia atheis, namun dia begitu kepo dengan agama, terutama dengan Islam. Namun pertanyaannya kali ini membuatku kaget, aku pun mencoba menjawab dengan baik.
“Tidak, aku sama sekali tidak terganggu apalagi keberatan. Semua ku lakukan dengan ikhlas, dan itu memang kewajibanku bukan?”, jawabku.
“Bagaimana kau tahu adanya Tuhan? Sementara kau sendiri tidak pernah bertemu dengannya dan mengapa di semua agama selalu memiliki aturan dari Tuhannya? Namun aturan semua agama itu berbeda?”, tanyanya kembali.
“Bukankah lebih baik jika dunia ini tanpa agama? Terkadang aturan dari Tuhan setiap agama itu membuat seseorang atau kelompok menjadi terpecah belah karena perbedaan. Jika tak ada agama maka tak ada aturan yang harus kau lakukan sehingga tak membuatmu terpecah dengan kelompok lain”, sambungnya dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.
Aku menghela napas, “Aku menyembah Tuhan bukan karena nenek moyangku atau karena tradisi, tapi aku percaya dan aku punya iman bahwa aku terlahir di dunia bukan karena kebetulan ataupun pemikiran logika yang sering orang katakan. Tak ada suatu kebetulan yang besar di dunia ini, jika tak ada yang mengendalikan dunia ini, bagaimana jadinya dunia ini? Ibaratkan pesawat, jika tak ada pilot bagaimana kau akan sampai ke tempat tujuanmu? Mesin yang canggih di dalam pesawat itupun tak akan pernah bisa membawamu pergi tanpa ada yang mengemudi. Sama sepeti dunia, sehebat apa pun dunia ini jika tak ada yang mengendalikan dunia akan hancur. Pertanyaannya siapa yang mengendalikannya?
“Bukan agama yang memecah belahkan orang atau kelompok tapi sifat egois dan nafsu manusia itu sendiri yang membuat mereka terpecah dan mereka mengatasnamakan agama. Apakah kau tak pernah berpikir, jika di dunia ini tanpa aturan dari Tuhan bagaimana kau hidup? Sederhana saja, kau bernafas bukankah itu aturan dari Tuhan? Bukankah itu kewajibanmu untuk bernafas? Satu lagi, makan dan minum. Bukankah itu aturan dari Tuhan bahwa kau harus makan dan minum di dunia jika tidak, apa yang terjadi denganmu? Makan dan minum sudah menjadi kewajibanmu sejak kecil, nah sekarang kewajiban dan aturan yang kecil sudah kau penuhi dan kau lakukan dengan baik, Tuhan sudah memberinya semua, ia hanya meminta padamu untuk mengerjakan aturan sedikit lebih besar dari semua itu, yaitu mempercayainya dengan menyembahnya, kau tidak bisa? Hanya itu?”, sudah ku pastikan jawabanku kali ini akan panjang lebar. Aku yakin dia paham dengan semua paparan jawabanku.
Semoga saja.
“Tanpa kau sadari, kau selalu melakukan aturan aturan dari Tuhanmu sekecill apapun namun hatimu tidak pernah tergerak untuk mempercayainya karena kau terlalu pintar dengan pengetahuan yang ada di otakmu sehingga kau hanya terbelenggu dengan pikiran pikiran logikamu saja. Jangan pernah katakan bahwa dunia akan lebih baik tanpa agama. Logika mu tak akan cukup untuk memperbaiki dunia yang hancur dan rusak jika tanpa agama”, sambungku lagi padanya dan dengan tambahan senyum, yang katanya dia menyukainya.
“Aku akan mencoba mengenal siapa yang menciptakan semua isi semesta ini, aku akan membuktikannya apakah hidupku akan lebih baik jika aku mempercayaiNya atau sebaliknya. Kau mau membantuku?”
Aku diam dan tersenyum kepadanya.
"Alhamdulillah", lirihku.
Bahagia?
Tentu.
"Yakinkan hatimu. Aku pasti akan membantumu", jawabku meyakinkannya.
Komentar
Posting Komentar