“Hei”, panggil seseorang di belakang ku. Aku berhenti berjalan dan melihat siapa yang memanggilku. Aku menyipitkan mata, karena pada saat itu aku tidak memakai kacamata ku.
“Ada yang ingin kau katakan?”, tanyaku padanya sambil memandangnnya.
“Hm”, ia berdehem.
“Apa itu?”, tanyaku lagi.
Sejenak ia diam.
Mungkin sedang merangkai kata demi kata pertanyaan.
“Katakan saja, Insya allah aku akan membantu jika kau butuh bantuan dan aku akan menjawab jika kau ada pertanyaan, aku akan melakukannya sebisaku”, sambungku padanya yang masih terlihat bingung.
Dia pun mulai membuka mulutnya dan mulai berbicara
“Jika kau ditanya oleh seseorang, siapa pun itu, dan ia bertanya tentang manusia yang paling kau cintai, siapakah orangnya yang akan kau jawab?”, tanyanya. Pertanyaan itu sedikit membuatku terdiam sejenak, memejamkan mata lalu menerawang ke depan.
“Aku ingin bertanya lagi padamu?”, ucapku. Dia mengernyitkan keningnya.
“Pertanyaanku saja belum kau jawab”, selanya padaku.
Aku tak menghiraukannya, “Siapa manusia yang paling mencintaimu?”
"Kedua orang tuaku", jawabnya santai.
“Tidakkah kau berpikir lebih dalam, bahwa 1400 tahun lalu ada manusia yang jauh lebih mencintaimu dari siapa pun? Yang selalu mendo’akanmu? Menangis dan berjuang untukmu? Manusia yang luar biasa, yang tak hanya memikirkan dirinya sendiri namun juga memikirkan umatnya. Manusia yang mencintaimu tanpa melihatmu, pernahkan kau cinta pada seseorang yang belum pernah kau lihat sama sekali?
“Jika kau bertanya padaku siapa manusia yang paling ku cintai aku akan menjawab, manusia itu adalah Rasulullah SAW, sosok yang hebat, sosok yang membuatku terpanah, sosok yang selalu membuatku rindu ingin bertemu dengannya, dialah manusia yang paling ku cintai.”
"Bagaimana dengan orang tua mu? Bukankah dia juga mencintaimu sejak kau lahir?”, tanyanya lagi.
“Cintaku pada Allah dan cintaku pada Rasulullah sudah menunjukkan bahwa aku juga mencintai kedua orang tuaku, cintaku pada sang Khaliq dan cintaku pada kekasihNya sudah bermuara kepada orang tuaku”, jawabku.
“Kau juga belum pernah melihatnya bukan? Bagaimana kau bisa mencintainya? Bukankah dia Nabi berbeda dengan manusia?”, tanyanya bertubi padaku.
Aku menghela napas, “Sungguh Rasulullah benar adalah nabi namun ia tidak pernah menganggapnya lebih dari manusia biasa. Dia tidak lebih hanya utusan Allah yang ditugaskan untuk membimbing manusia yang lain. Nabi dilahirkan dari manusia juga bukan? Dia juga mempunyai anak-cucu bukan? Lantas jika nabi bukan manusia lalu apa? Nabi jugalah manusia namun ia manusia yang sangat dipercaya Allah.”
“Lalu bagaimana kau cinta padanya sementara kau belum melihatnya?”
“Cintaku padanya bukan karena hanya pandangan, aku mencintainya karena ketulusan hatiku. Hati ini yang tergerak untuk mencintai orang sehebat beliau, hati ini yang tergerak untuk mencintai seorang yang rela darahnya bertumpah hanya untuk agama Allah dan umatnya, hati ini yang tergerak untuk mencintai beliau karena Allah.”
“Sungguh diri ini memang belum pernah melihatnya, namun diriku yang berlumur dosa ini selalu ingin melihat dan berjumpa dengan beliau. Sekalipun dalam bunga tidurku.”
Aku mulai menitikkan sedikit air mata, mencoba menahan. Tak elok rasanya aku menangis, namun air itu jatuh dengan sendirinya, bulu kuduk yang merinding dan hati bergetar saat aku mengingat dirimu ya Rasulullah.
Dia tersenyum padaku dan merangkul tubuhku. “Aku mengerti, aku akan selalu jatuh cinta dengan Rasulku. Terima kasih.”
“Ini aku,” sahut seseorang itu dan mendekati aku ia tahu kalau aku tak dapat melihatnya dengan jelas.
“Oh ternyata kau, ada apa?”, tanyaku padanya.
“Ayo kita sambil berjalan menuju kelas”, ajaknya padaku sambil menggandeng tanganku. Aku hanya mengangguk.
Dan kami berjalan bersama menuju kelas.
“Ada yang ingin kau katakan?”, tanyaku padanya sambil memandangnnya.
“Hm”, ia berdehem.
“Apa itu?”, tanyaku lagi.
Sejenak ia diam.
Mungkin sedang merangkai kata demi kata pertanyaan.
“Katakan saja, Insya allah aku akan membantu jika kau butuh bantuan dan aku akan menjawab jika kau ada pertanyaan, aku akan melakukannya sebisaku”, sambungku padanya yang masih terlihat bingung.
Dia pun mulai membuka mulutnya dan mulai berbicara
“Jika kau ditanya oleh seseorang, siapa pun itu, dan ia bertanya tentang manusia yang paling kau cintai, siapakah orangnya yang akan kau jawab?”, tanyanya. Pertanyaan itu sedikit membuatku terdiam sejenak, memejamkan mata lalu menerawang ke depan.
“Aku ingin bertanya lagi padamu?”, ucapku. Dia mengernyitkan keningnya.
“Pertanyaanku saja belum kau jawab”, selanya padaku.
Aku tak menghiraukannya, “Siapa manusia yang paling mencintaimu?”
"Kedua orang tuaku", jawabnya santai.
“Tidakkah kau berpikir lebih dalam, bahwa 1400 tahun lalu ada manusia yang jauh lebih mencintaimu dari siapa pun? Yang selalu mendo’akanmu? Menangis dan berjuang untukmu? Manusia yang luar biasa, yang tak hanya memikirkan dirinya sendiri namun juga memikirkan umatnya. Manusia yang mencintaimu tanpa melihatmu, pernahkan kau cinta pada seseorang yang belum pernah kau lihat sama sekali?
“Jika kau bertanya padaku siapa manusia yang paling ku cintai aku akan menjawab, manusia itu adalah Rasulullah SAW, sosok yang hebat, sosok yang membuatku terpanah, sosok yang selalu membuatku rindu ingin bertemu dengannya, dialah manusia yang paling ku cintai.”
"Bagaimana dengan orang tua mu? Bukankah dia juga mencintaimu sejak kau lahir?”, tanyanya lagi.
“Cintaku pada Allah dan cintaku pada Rasulullah sudah menunjukkan bahwa aku juga mencintai kedua orang tuaku, cintaku pada sang Khaliq dan cintaku pada kekasihNya sudah bermuara kepada orang tuaku”, jawabku.
“Kau juga belum pernah melihatnya bukan? Bagaimana kau bisa mencintainya? Bukankah dia Nabi berbeda dengan manusia?”, tanyanya bertubi padaku.
Aku menghela napas, “Sungguh Rasulullah benar adalah nabi namun ia tidak pernah menganggapnya lebih dari manusia biasa. Dia tidak lebih hanya utusan Allah yang ditugaskan untuk membimbing manusia yang lain. Nabi dilahirkan dari manusia juga bukan? Dia juga mempunyai anak-cucu bukan? Lantas jika nabi bukan manusia lalu apa? Nabi jugalah manusia namun ia manusia yang sangat dipercaya Allah.”
“Lalu bagaimana kau cinta padanya sementara kau belum melihatnya?”
“Cintaku padanya bukan karena hanya pandangan, aku mencintainya karena ketulusan hatiku. Hati ini yang tergerak untuk mencintai orang sehebat beliau, hati ini yang tergerak untuk mencintai seorang yang rela darahnya bertumpah hanya untuk agama Allah dan umatnya, hati ini yang tergerak untuk mencintai beliau karena Allah.”
“Sungguh diri ini memang belum pernah melihatnya, namun diriku yang berlumur dosa ini selalu ingin melihat dan berjumpa dengan beliau. Sekalipun dalam bunga tidurku.”
Aku mulai menitikkan sedikit air mata, mencoba menahan. Tak elok rasanya aku menangis, namun air itu jatuh dengan sendirinya, bulu kuduk yang merinding dan hati bergetar saat aku mengingat dirimu ya Rasulullah.
Dia tersenyum padaku dan merangkul tubuhku. “Aku mengerti, aku akan selalu jatuh cinta dengan Rasulku. Terima kasih.”
Keren...
BalasHapusWaw keren, menakjubkan,luarbiasa, bagusloh, SUGOI, emezing, awesome, Good job, semangat author untuk menciptakan karya karya yang bagus
BalasHapus