Hari seusai perang "Anakku tertawan oleh mereka!" "Demi Allah, musnahnya mereka adalah kebaikan dalam hidupku." "Engkau benar ..." Dua lelaki yang masih mengalir darah persaudaraan ditubuhnya tengah berbincang pelan di majelis sore yang sedang panas karena peristiwa mencekam beberapa hari lalu. Lelaki pertama wajahnya tak terdefinisikan. Menampilkan kemarahan. Menyiratkan kebencian yang memuncak. Namun pias wajahnya tak membohongi hatinya yang tengah merasakan kesedihan mendalam. Lelaki kedua duduk bersila dengan pikiran yang berkecamuk. Memendam kedengkian yang pahit dan mematikan. Tertutup matanya, memperlihatkan dalam bayang bagaimana ayahnya terbunuh oleh pasukan orang yang mengaku sebagai Nabi baru. Lelaki pertama menegakkan badan. "Andai tidak ku pikirkan bagaimana nasib keluarga dan hutangku yang belum terbayar. Akan ku bunuh Muhammad!" Suaranya mengancam. Sang saudara berbinar matanya. "Engkau ingin membunuh Muhammad?...